Proses pengambilan keputusan sering tampak sesederhana kita meyakini sesuatu lalu melangkah sesuai suara hati tersebut. Namun ketika tanggung jawab dalam bisnis, organisasi, maupun hidup personal semakin besar, keputusan yang baik bukan sekadar keputusan yang terasa benar, melainkan keputusan yang tahan diuji oleh realitas.
Di era ketika generasi muda semakin akrab dengan istilah mental health, self love, dan beragam narasi kesejahteraan diri lainnya, dorongan untuk “mendengar kata hati” memang makin kuat. Itu wajar dan bahkan penting.
Tetapi keseimbangan berpikir tetap dibutuhkan dalam pengambilan keputusan, karena hati tidak selalu berbicara dari kebijaksanaan, seperti apa yang disampaikan Arsjad Rasjid dalam paparan berikut ini.
Daftar Isi
Proses Pengambilan Keputusan: Jangan Selalu Percaya Kata Hati

Proses Pengambilan Keputusan (Sumber)
Arsjad Rasjid menegaskan ide yang terdengar kontra-intuitif namun relevan: jangan selalu percaya kata hati. Hal ini karena intuisi bisa menjadi alat yang baik, atau jebakan yang halus, tergantung kondisi kita. Arsjad Rasjid muda pernah percaya bahwa insting saja cukup, dan memang instingnya sering benar.
Namun ada momen yang menyadarkan bahwa hanya mengandalkan intuisi, ia justru kehilangan peluang. Mengapa itu bisa terjadi? Salah satu jawabannya adalah hati terpapar bias kognitif. “Kata hati” sering merupakan manifestasi dari ketakutan (fear) atau keinginan instan (gratification).
Misalnya, ketika seseorang merasa “ingin mengundurkan diri karena lelah”, itu bisa jadi bukan suara hati yang bijak, melainkan respons hormon kortisol yang tinggi karena kurang tidur dan tekanan menumpuk. Pada momen seperti itu, keputusan yang hanya bermodal hati akan terasa indah di awal, namun sering kali rapuh saat menghadapi realitas.
Punya Data ≠ Punya Jawaban: Menguji, Bukan Membenarkan

Ilustrasi Punya Data ≠ Punya Jawaban (Sumber)
Kemajuan teknologi membuat kita mudah mengumpulkan dan mengolah data. Tetapi ada pengingat penting: punya data tidak sama dengan punya jawaban. Data harus diterjemahkan menjadi keputusan melalui proses berpikir yang sehat dan proses itu tetap membutuhkan unsur manusiawi, seperti empati, value dan konteks. Tanpa itu, data bisa dingin, bias, bahkan menyesatkan.
Di sisi lain, hati bekerja berdasarkan intuisi emosional, sementara realitas dunia kerja dan bisnis bekerja berdasarkan pola dan data. Mengambil keputusan hanya berdasarkan perasaan tanpa validasi logika sering berujung pada keputusan impulsif yang disesali di kemudian hari.
Karena itu, hati kita sering beradu argumen dengan data yang objektif sebelum mengambil langkah besar. Data berfungsi bukan untuk membenarkan keputusan yang sudah kita sukai, melainkan untuk menguji: apakah keputusan ini masuk akal, risikonya terukur, dan dampaknya dapat dipertanggungjawabkan.
Leading With Care, Deciding With Data: Keseimbangan yang Dewasa

deciding With Data (sumber)
Arsjad merangkum prinsipnya dengan sederhana: leading with care, deciding with data. Ia juga menekankan bahwa bisnis terbaik bukan yang paling cepat tumbuh, melainkan yang mampu menyeimbangkan hati dan analisis. Kalimatnya lugas: investing in data gives profit, investing in people gives progress.
Di sini terlihat bahwa “hati” bukan soal sentimentil; melainkan kepedulian pada manusia yang berada di balik angka—tim, pelanggan, dan para stakeholder. Namun keseimbangan bukan berarti penyangkalan. Memahami bahwa hati bisa salah bukan berarti kita menjadi robot.
Justru kedewasaan adalah ketika kita mampu melakukan validasi perasaan dengan nalar: “Saya merasa tidak nyaman, apakah ini karena dari aspek logika, atau karena aspek emosi?”
Mendengarkan kata hati adalah empati pada diri sendiri, namun menggunakan logika adalah bentuk tanggung jawab pada masa depan. Visi besar lahir dari hati, namun eksekusi yang berkelanjutan hanya bisa bertahan dengan pondasi logika dan wawasan yang kokoh.
BACA JUGA: Apa Arti Self Reward? Inilah 3 Tips dari Arsjad Rasjid agar Tidak Impulsif
Karena itu, jika kita berada di posisi decision maker, pegang tiga hal sederhana: dengarkan sebelum menilai; gunakan data untuk menguji, bukan membenarkan; dan ambil keputusan yang paling bermanfaat bagi para stakeholder. Dan jika ingin menguji diri, kembali ke pertanyaan yang sama: bagaimana kita menemukan keseimbangan antara hati dan data dalam memimpin?












