Dalam satu dekade terakhir ekonomi Vietnam meroket jadi salah satu yang paling pesat pertumbuhannya, setidaknya di wilayah Asia Tenggara. Padahal dulu Vietnam ibaratnya seperti seorang murid yang biasa-biasa saja prestasinya, tidak lebih baik daripada Indonesia.

Manufaktur jadi alasan kenapa Vietnam mampu berpacu dan menjadi yang paling signifikan di antara negara-negara berkembang. Seperti yang diungkapkan oleh Arsjad Rasjid dalam postingan Instagramnya. Menurutnya manufaktur adalah mesin penggerak ekonomi dan Vietnam sudah meng-upgrade levelnya menjadi turbo. Sedangkan Indonesia masihlah begitu saja bahkan turun mesin. Lalu kenapa hal tersebut bisa terjadi dan apa yang sebaiknya dilakukan oleh Indonesia?

Ekonomi Vietnam bertumbuh drastis

Tidak lagi tertinggal, kini Vietnam memimpin soal perlombaan pertumbuhan ekonomi khususnya di wilayah Asia Tenggara. Dilansir dari Antaranews.com, di kuartal III 2025 ini negara yang beribu kota Hanoi tersebut mencatatkan pertumbuhan sekitar 8,22%. Sementara Indonesia masih di sekitar 5,04%.

Capaian ini juga merupakan lanjutan dari tren positif mereka di 2024 yang sudah mencatatkan pertumbuhan ekonomi di 7,09%. Di mana di tahun 2023 mereka menghasilkan peningkatan sebesar 5,05%.

Manufaktur Vietnam jadi mesin penggerak ekonomi

Jika ditanya kenapa ekonomi negara berjuluk Negeri Naga Biru melesat, salah satunya adalah karena capaian manufaktur mereka. Diketahui di berbagai sektor khususnya industri dan konstruksi terjadi pertumbuhan signifikan mencapai 9,46%.

Vietnam juga kini mengukuhkan dirinya sebagai salah satu basis produksi elektronik dunia. Hal ini dilihat dari berbagai perusahaan teknologi seperti Samsung, Apple, hingga Foxconn yang terus memindahkan lini produksi mereka ke negara berpenduduk 100 juta orang ini.

Belum lagi performa kinerja ekspor Vietnam juga cukup agresif di $356,7 miliar di sektor manufaktur. Sedangkan Indonesia baru $242,8 miliar.

Investasi asing dan reformasi kebijakan jadi kuncian Vietnam

Vietnam memiliki mesin manufaktur yang impresif bukan terjadi begitu saja melainkan karena mereka melakukan berbagai manuver penting. Pertama datangnya dari investasi asing langsung (Foreign Direct Investment) yang jadi bahan bakar utama. Setidaknya selama 10 bulan awal di tahun 2025 mereka berhasil menarik investasi sebesar $31,52 miliar.

Faktor kedua yang memungkinkan hal tersebut bisa terjadi tak lain karena Negeri Nguyen ini merombak habis-habisan kebijakan mereka. Misalnya dengan memangkas jumlah kementerian, mempercepat proses perizinan, hingga menghilangkan hambatan birokrasi yang selama ini jadi bantu sandungan para investor.

Diketahui pula mereka juga memberikan berbagai kemudahan misalnya pembebasan pajak penghasilan. Termasuk juga diskon sewa lahan di kawasan ekonomi khusus.

Indonesia mengalami deindustrialisasi prematur

Jika dulu Indonesia memimpin di persaingan ekonomi ASEAN, nampaknya sekarang sedang berada di fase struggle. Arsjad Rasjid menyebut apa yang sedang terjadi ini sebagai deindustrialisasi prematur.

Beberapa cirinya misalkan adalah sepinya pabrik, pergeseran tenaga kerja ke sektor informal, hingga kehilangan penggerak ekonomi jangka panjang. Belum lagi ketergantungan impor juga merupakan tanda deindustrialisasi lain yang bedampak langsung pada pelemahan neraca perdagangan dan pertumbuhan ekonomi nasional.

Saatnya Indonesia copy with pride apa yang dilakukan Vietnam

Vietnam pernah berada di fase terpuruk dan bisa bangkit menjadi yang terdepan, maka Indonesia selayaknya juga mampu. Oleh karenanya kita perlu copy with pride apa yang dilakukan oleh Vietnam dengan mengupayakan beberapa hal.

1. Buka lebar pintu investor dan beri insentif

Vietnam sukses karena memberikan karpet merah kepada para investor. Indonesia pun bisa melakukannya termasuk dengan pemberian insentif menarik. Misalnya menyederhanakan perizinan hingga insentif pajak.

2. Fokus pembangunan SDM vokasi

Manufaktur yang maju juga didukung oleh tenaga kerja yang skilful. Oleh karenanya Indonesia perlu untuk membangun sumber daya manusia yang siap pakai untuk industri. Hal ini perlu diperkuat mulai dari dasar misalnya menghubungkan kurikulum langsung dengan kebutuhan manufaktur melalui skema link and match.

3. Infrastruktur disiapkan terlebih dahulu

Sebelum investor datang kita sebaiknya sudah mempersiapkan segala pendukungnya terutama dari infrastruktur. Misalnya menyiapkan kawasan industri terpadu, akses pelabuhan, hingga jaringan logistik yang efisien.

4. Fokus pada barang yang dicari dunia

Tidak hanya berfokus pada ranah domestik, Indonesia perlu melakukan industrialisasi pada produk-produk yang memiliki permintaan tinggi di pasar dunia. Misalnya seperti komponen elektronik, kendaraan listrik, hingga produk bernilai tambah tinggi lain.

BACA JUGA: Filosofi di Balik Angka 08: Target Pertumbuhan Ekonomi yang Memiliki Misi Besar

Vietnam pernah di fase terpuruk namun mereka berhasil bangkit dan memimpin. Indonesia tentu juga bisa melakukan hal yang sama, asal mau merefleksi ke dalam dan melakukan pembenahan penting. Dulu mesin kita melesat sangat cepat, saatnya mewujudkan hal tersebut kembali.

You may also like

More in News