Isu kesenjangan gaji pria dan wanita masih menjadi fenomena nyata di dunia kerja, termasuk Indonesia. Meskipun beban kerja, kapabilitas, dan tanggung jawab setara, faktanya masih banyak pekerja perempuan yang tiap bulannya mendapatkan gaji yang lebih rendah daripada laki-laki. Hal ini mencerminkan adanya masalah struktural dalam sistem ketenagakerjaan.
Fenomena ketimpangan gaji ini juga disoroti oleh Arsjad Rasjid melalui sebuah video reels. Dalam video tersebut ia menyoroti realitas sederhana namun sering luput dibahas. Yakni laki-laki dan perempuan bisa bekerja bersama dengan effort dan latar belakang serupa, namun menerima perlakuan berbeda soal peluang dan upah.
Daftar Isi
Kesenjangan gaji pria dan wanita dalam angka
Bias gender dan peran ganda perempuan
Dampak terhadap ekonomi dan kesetaraan
Kesenjangan gaji pria dan wanita dalam angka
Data resmi menunjukkan bahwa fenomena ketimpangan gaji ini memang terjadi secara sistematis. Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025 menyatakan bahwa terdapat kesenjangan upah antara pekerja laki-laki dan perempuan yang berkisar di antara 20-22 persen. Artinya perempuan menerima gaji yang lebih rendah dibanding laki-laki meskipun berada dalam dunia kerja yang sama.
Kondisi ini bisa kita temui di berbagai sektor pekerjaan. Baik untuk lulusan pendidikan menengah bahkan yang lebih tinggi, perbedaan upah tetap ditemukan. Hal ini menegaskan bahwa kesenjangan gaji pria dan wanita tidak semata-mata disebabkan background atau kemampuan, tapi faktor lain yang lebih kompleks dan struktural.
Bias gender dan peran ganda perempuan
Arsjad Rasjid mengatakan bahwa salah satu faktor utama yang jadi alasan munculnya fenomena kesenjangan upah adalah bias gender di tempat kerja. Perempuan seringnya dianggap kurang fleksibel karena memiliki tanggungan domestik, seperti mengurus anak dan keluarga. Persepsi ini akhirnya berdampak secara tidak langsung pada penilaian kerja yang berdampak pada gaji.
Selain itu, banyak wanita yang masih terkonsentrasi di sektor informal dan pekerjaan dengan tingkat upah lebih rendah. Di sektor formal pun, kadang standar penilaiannya tidak sepenuhnya objektif.
Kembali ke peran ganda perempuan, hal tersebut akhirnya seolah membuat peluang karier mereka tampak lebih sempit. Meskipun secara kompetensi dan kualitas kerja tidak kalah dibanding laki-laki.
Dampak terhadap ekonomi dan kesetaraan
Kesenjangan upah yang dialami wanita sejatinya tidak hanya berdampak secara individual saja, namun ke lingkup yang lebih luas. Ketika potensi tenaga kerja perempuan tidak dihargai secara setara maka kontribusi mereka terhadap pertumbuhan ekonomi menjadi tidak optimal.
Dilansir dari CNBC, kesenjangan upah dan partisipasi kerja perempuan secara global berpotensi menyebabkan hilangnya nilai ekonomi hingga $7 triliun atau sekitar tujuh persen aktivitas ekonomi dunia.
Di level nasional dampaknya juga signifikan. World Bank menyebutkan bahwa peningkatan kesetaraan gender di dunia kerja, termasuk dalam hal ini adalah upah, dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Diproyeksikan bahwa dengan menutup kesenjangan gender dalam pasar tenaga kerja berpotensi menambah nilai Produk Domestik Bruto (PDB) secara signifikan.
BACA JUGA: Baru Mendapatkan Gaji Pertama? Ini Tips Cara Menabung Efektif untuk Masa Depan
Kesenjangan upah antara laki-laki dan perempuan merupakan refleksi dari sistem kerja yang belum sepenuhnya adil. Isu ini memang masih sering menjadi topik bahasan walaupun realita perubahan di lapangan berjalan lambat. Sudah saatnya penilaian kerja benar-benar berbasis pada kompetensi, kinerja, dan kontribusi, tanpa dibayangi bias gender.













