Memilih emas untuk investasi seringkali dianggap sebagai langkah paling aman saat kondisi ekonomi tidak menentu, namun keputusan ini harus didasari oleh analisis mendalam guna menghindari kerugian akibat fenomena rational panic.
Kondisi geopolitik yang tidak pasti dan fluktuasi nilai tukar rupiah memicu kekhawatiran masyarakat terhadap inflasi. Hal ini menyebabkan antrean panjang di gerai-gerai logam mulia. Arsjad Rasjid, seorang pengusaha senior dan mentor bisnis, menyoroti fenomena ini sebagai pengingat bagi para investor agar tetap tenang dan objektif dalam mengambil keputusan finansial.
Daftar Isi
Emas untuk investasi: Memahami fenomena rational panic dalam
Risiko di balik pembelian emas yang impulsif
Pentingnya analisis ketimbang sekadar ikut-ikutan
Nasihat bijak: Menjaga stabilitas finansial dan mental
Emas untuk investasi: Memahami fenomena rational panic dalam
Dalam berbagai kesempatan berbagi pengalaman, Arsjad Rasjid menekankan bahwa lonjakan minat terhadap emas belakangan ini didorong oleh apa yang disebut sebagai rational panic. Ini adalah kondisi di mana masyarakat bertindak cepat dan masif karena alasan yang sebenarnya masuk akal, namun dilakukan secara impulsif.
Menurut beliau, wajar jika masyarakat ingin mengamankan kekayaan dalam bentuk aset yang stabil saat pasar saham goyang dan harga barang pokok merangkak naik. Namun, tindakan yang didasari kepanikan (meskipun rasional) tetap membawa risiko besar. Ketika semua orang bergerak bersamaan karena rasa takut, harga aset cenderung terdistorsi dari nilai intrinsiknya.
Arsjad memperingatkan bahwa membeli emas hanya karena melihat orang lain mengantre adalah bentuk strategi yang kurang matang. Seorang investor yang bijak harus mampu membedakan antara kebutuhan lindung nilai (hedging) dengan sekadar mengikuti arus tren pasar atau FOMO (Fear of Missing Out).
Risiko di balik pembelian emas yang impulsif
Membeli emas untuk investasi saat terjadi rational panic bukan tanpa konsekuensi. Arsjad Rasjid menjelaskan bahwa fenomena ini dapat memicu risiko sosial dan ekonomi yang lebih luas. Salah satu dampak yang paling nyata adalah terjadinya volatilitas pasar yang ekstrem.
Ketika permintaan melonjak secara mendadak, stok emas di pasaran bisa mengalami kelangkaan. Kondisi ini secara otomatis akan mengerek harga emas ke level yang sangat tinggi dalam waktu singkat. Bagi pembeli yang masuk di puncak harga karena panik, mereka berisiko mengalami kerugian saat harga terkoreksi kembali ke titik normal.
Selain itu, volatilitas yang tinggi membuat selisih harga jual dan harga beli (spread) menjadi lebih lebar. Hal ini tentu merugikan investor jangka pendek yang tidak memiliki perhitungan matang mengenai durasi investasi mereka. Sebagai mentor, beliau menyarankan agar setiap individu memahami bahwa emas adalah instrumen jangka panjang, bukan alat untuk spekulasi sesaat di tengah kekacauan ekonomi.
Pentingnya analisis ketimbang sekadar ikut-ikutan
Arsjad Rasjid mendorong masyarakat untuk kembali ke dasar-dasar investasi yang sehat, yaitu pengamatan dan analisis. Sebelum memutuskan mengalokasikan dana ke emas, seorang investor perlu melihat portofolio keuangan secara keseluruhan. Analisis ini mencakup pemahaman terhadap siklus harga emas, tujuan keuangan pribadi, serta jangka waktu investasi.
Emas memang dikenal sebagai safe haven atau aset aman. Namun, efektivitas emas untuk investasi sangat bergantung pada momentum pembelian. Membeli saat harga sedang “digoreng” oleh kepanikan publik justru akan mengurangi potensi keuntungan di masa depan. Beliau menekankan bahwa ketenangan adalah kunci dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi.
Alih-alih terjebak dalam antrean panjang karena takut ketinggalan, investor disarankan untuk melakukan diversifikasi secara bertahap. Dengan melakukan metode dollar cost averaging atau membeli secara rutin dalam jumlah tetap, risiko fluktuasi harga dapat diminimalisir dibandingkan membeli dalam jumlah besar sekaligus saat terjadi kepanikan pasar.
Nasihat bijak: Menjaga stabilitas finansial dan mental
Sebagai penutup dari perspektif seorang mentor, Arsjad Rasjid mengingatkan bahwa tujuan utama investasi adalah memberikan ketenangan pikiran, bukan justru menambah kecemasan. Jika proses membeli emas untuk investasi justru membuat seseorang merasa tertekan karena harus berebut dengan orang lain, maka ada yang salah dengan strategi tersebut.
Investasi yang baik adalah investasi yang direncanakan dengan kepala dingin. Beliau berpesan agar masyarakat tetap waspada terhadap kondisi ekonomi global, namun tidak membiarkan rasa takut mendikte tindakan finansial mereka. Memahami fundamental ekonomi dan tetap berpegang pada rencana keuangan jangka panjang akan jauh lebih menguntungkan daripada sekadar mengikuti gerakan massa yang emosional.
BACA JUGA: Terjebak Siklus Rat Race, Apa Dampak dan Bagaimana Cara Mengatasinya?
Dengan pendekatan yang lebih analitis dan tenang, emas akan tetap menjadi instrumen pelindung nilai yang efektif tanpa harus terjebak dalam pusaran risiko rational panic. Kesuksesan finansial bukan ditentukan oleh seberapa cepat seseorang bereaksi terhadap berita, melainkan seberapa tepat ia memposisikan diri di tengah perubahan.














