Selama bertahun-tahun, SMK adalah jantung aktivitas produktif. Seperti teknisi yang menjaga pasokan listrik, operator yang memastikan mesin pabrik berjalan, tenaga maintenance supaya fasilitas bisa tetap beroperasi dan berbagai SDM terampil lain yang menjadi tulang punggung industri.

Ironisnya, di ruang publik vokasi seringkali diposisikan sebagai pilihan kedua. Bukan karena kualitasnya lebih rendah, tapi karena cara pandang seolah-olah jalur akademik selalu lebih “prestisius”, sementara vokasi hanya untuk “yang penting bisa kerja”.

Padahal SMK adalah jalur strategis bagi masa depan SDM Indonesia yang dibutuhkan oleh industri hari ini. Namun, apa yang membuat lulusan SMK sulit bersaing di ranah lapangan kerja? Simak penjelasan Arsjad Rasjid di bawah ini.

Lulusan SMK adalah street smart, tapi mengapa serapan kerjanya rendah?

Berdasarkan data tahun 2023-2024, dari 149 juta orang angkatan kerja, lulusan vokasi tercatat sebagai kelompok dengan persentase pengangguran tertinggi, berada pada kisaran 9,01%–9,6%. Di sinilah paradoks SMK muncul: meski menekankan praktik sejak hari pertama sekolah, lulusan SMK justru kesulitan mendapatkan pekerjaan.

Dalam situasi sebesar ini, tantangan utama bukan semata jumlah lulusan, melainkan kecocokan keterampilan dengan kebutuhan pasar kerja. Arsjad Rasjid menggarisbawahi hal ini sebagai sinyal bahwa ada persoalan struktural yang perlu dibenahi: banyak keterampilan yang diajarkan belum sepenuhnya selaras dengan kebutuhan industri yang terus berubah.

Perubahan industri tidak menunggu kurikulum

Saat ini, industri bergerak cepat, di mana terjadi otomasi atau digitalisasi proses, dan pergeseran investasi dari padat karya ke padat modal. Kondisi tersebut membuat jenis pekerjaan, standar kerja, hingga mekanisme alat kerja yang digunakan ikut berubah dalam tempo singkat.

Pembaruan kurikulum dan fasilitas praktik yang tidak mampu sejalan dengan ritme perubahan tersebut, dapat berdampak pada ketertinggalan keterampilan para siswa vokasi. Hal ini bukan disebabkan karena para siswa tidak mampu, tetapi karena bekal yang mereka terima belum tepat sasaran. Praktik saja tidak cukup, tetapi juga harus relevan. Di antaranya memenuhi beberapa hal di bawah ini.

  • Standar kerja yang mendekati kondisi industri
  • Peralatan dan proses yang sesuai kebutuhan lapangan
  • Serta pola pelatihan yang membiasakan mereka menghadapi problem nyata, bukan sekadar prosedur rutin

Mindset yang ditekankan oleh Arsjad Rasjid bahwa perusahaan tidak hanya mencari orang yang “bisa mengerjakan”, tetapi orang yang bisa menyelesaikan masalah.

Tantangan utama vokasi yang sering dibahas adalah tentang link and match. Kerap dianggap sebagai program magang, padahal ini menjadi momen kemitraan yang potensial antara sekolah dan industri.

Link and Match perlu menjadi mekanisme konsusten di mana hubungan SMK dan industri tidak cukup berhenti pada program magang atau seremonial kerja sama. Melainkan terjalinnya keselarasan nyata di mana kebutuhan kompetensi industri mampu diterjemahkan menjadi keterampilan yang diajarkan, diuji, dan dilatih berulang.

Bila kebutuhan skill di dunia industri berubah, maka kurikulum dan praktik harus mampu beradaptasi dan ikut bergerak. Saat industri membutuhkan standar tertentu, maka sertifikasi dan pelatihan perlu disiapkan agar siswa mampu menguasai standar tersebut. Dengan demikian vokasi benar-benar menjadi jalur strategis, bukan sekadar jalur cepat lulus.

Ekspor keterampilan bisa menjadi jalur pembelajaran

Realitanya, lapangan kerja juga memiliki pergerakan yang dinamis. Tidak semua skill mendapatkan ruang serap yang besar pada waktu yang sama di dalam negeri. Oleh karena itu, Arsjad Rasjid menekankan penting exporting skills atau ekspor keterampilan pada kondisi tersebut.

Pengalaman belajar dan bekerja di luar negeri dapat menjadi strategi penguatan kompetensi. Dengan mengirim talenta vokasi untuk memperluas keterampilan, mendapatkan standar kerja internasional, dan kembali dengan pengalaman yang dapat meningkatkan kualitas kerja di tanah air.

Bila program ini dikelola dengan baik, aman dan terjamin, dapat menjadi investasi keterampilan. Lulusan vokasi yang belajar di luar, lalu membawa pulang pengetahuan dan etos kerja yang lebih matang.

Menempatkan SMK pada Posisi yang Semestinya

Bila SMK adalah pilar SDM terampil, maka kita perlu mengubah paradigma, menyesuaikan kualitas kurikulum, fasilitas praktik, serta menguatkan konektivitas dengan industri terkait. Data angka pengangguran lulusan SMK dapat menjadi dorongan untuk memperbaiki keselarasan keterampilan dengan kebutuhan lapangan.

BACA JUGA: Penyebab Pengangguran di Kalangan Gen Z dan Langkah Efektif Menghadapinya

SMK perlu didorong menjadi pilihan utama, dengan kualitas yang terus di-upgrade, serta ekosistemnya terhubung secara efektif dengan industri. Dengan demikian, Arsjad meyakini Indonesia tidak hanya memiliki angka SDM yang besar, tetapi juga siap bersaing, adaptif, dan relevan dengan kebutuhan ekonomi modern.

You may also like

More in News