News

Kilas Balik: Langkah Arsjad Radjid Selamatkan Indika Energy saat Nyaris Karam (3)

Efisiensi juga berlaku untuk semua anak-anak usaha perusahaan. Anak perusahaan yang tidak efisien dilepas. Anak usaha yang dipertahankan dipastikan merupakan sektor unggulan yang menjadi penopang perusahaan.

Indika Energy memiliki tiga pilar bisnis, yakni sumber daya energi, jasa energi, serta infrastruktur energi. Di pilar sumber daya energi ada empat perusahaan (PT Kideco Jaya Agung, PT Multi Tambangjaya Utama, PT Mitra Energi Agung, dan PT Indika Energy Trading).

Di pilar jasa energi ada tiga perusahaan (PT Petrosea Tbk, PT Tripatra Engineers & Constructors, dan PT Tripatra Engineering). Sedangkan di pilar infrastruktur energi, ada lima perusahaan (PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk, PT Cirebon Electric Power, PT Petrosea Offshore Supply Base, PT Indika Logistic & Support Services, dan PT Kuala Pelabuhan Indonesia).

Optimalisasi aset menjadi small step kedua. Cara ini pun bukan sesuatu yang luar biasa untuk dilakukan perusahaan yang sedang limbung. Namun, inilah pilihan yang diambil.

Optimalisasi aset pun tidak dengan cara yang muluk-muluk, tetapi sederhana saja. Ambil contoh, pemakaian ban kendaraan operasional di tambang batu bara. Dari biasanya rata-rata dua tahun sekali mesti ganti, diupayakan optimal agar bisa tambah satu tahun lagi, yakni tiga tahun sekali pergantian.

Pemakaian komponen kendaraan lainnya juga diupayakan seoptimal mungkin. Prinsipnya, tak ada aset perusahaan yang tak optimal pemanfaatannya. Dari optimalisasi ini akan ikut menghemat biaya yang bermuara pada penambahan penghasilan.

Strategi manajemen utang (liability management) menjadi small step ketiga. Seperti diketahui, untuk membiayai ekspansi perusahaan yang begitu kencang di masa silam, sebagian dilakukan dengan menerbitkan surat utang di pasar uang internasional.

Langkah pertama yang dilakukan perusahaan saat menghadapi krisis adalah melakukan audiensi kepada investor global yang selama ini membelanjakan dana mereka untuk membeli obligasi yang diterbitkan perusahaan. Kepada para investor, Arsjad menyampaikan apa adanya kondisi perusahaan dan rencana aksi korporasi ke depan guna menyelamatkan perusahaan. Rupanya, langkah manajemen tersebut diapresiasi investor.

Pasca upaya menghadap investor berjalan lancar, dengan tingkat kepercayaan investor terhadap manajemen Indika Energy yang juga masih tinggi, hal ini membuat Arsjad dan jajaran direksi kian bersemangat untuk menata pembayaran kewajiban perusahaan yang jatuh tempo.

Tumpukan utang perusahaan dari USD 1,2 miliar dipangkas jadi USD 850 juta. Utang yang ada coba direstrukturisasi dengan tenor lebih panjang. Meski lembaga rating dunia, seperti Moody’s dan Fitch, sempat menurunkan peringkat utang Indika dari “B” ke “CCC” pada 2013, toh ketika perusahaan menerbitkan surat utang baru senilai USD 500 juta justru mengalami oversubscribed dua sampai tiga kali dengan tingkat kupon 5,875 persen, terendah untuk kategori obligasi perusahaan tambang bertenor tujuh tahun di Asia. “Di sinilah saya merasakan pentingnya menjaga nama baik dan kredibilitas,” ujar dia.

Langkah-langkah yang terkesan simpel dan sederhana, seperti efisiensi, optimalisasi aset, dan penataan kembali utang secara lebih sehat melalui liability management, memberikan dampak di luar dugaan.

Saat mulai melakukan pembenahan internal di 2015, kinerja keuangan masih membukukan rugi bersih setelah pajak sebesar USD 44,6 juta. Begitu pula di 2016, masih rugi bersih setelah pajak sebesar USD 67,6 juta. Namun, setahun kemudian (2017) kinerja keuangan perusahaan sudah meraup laba bersih setelah pajak sebesar USD 335,4 juta.

Perbaikan kinerja perusahaan juga ditopang pemulihan harga batu bara di pasar internasional yang mulai menyentuh level USD 85 per ton pada 2017. Pemulihan harga itu berlangsung setelah pemerintah Tiongkok menghidupkan kembali produksi sejumlah tambang batu bara guna menahan laju kehancuran perusahaan-perusahaan batu bara di sana akibat belitan utang. Langkah pemerintah Tiongkok ini dimaksudkan untuk menjaga stabilitas harga batu bara guna mengamankan perusahaan batu bara mereka agar bisa keluar dari jebakan kebangkrutan.

Setelah melewati badai yang nyaris bikin karam perusahaan, berbekal disiplin tinggi dalam menegakkan efisiensi pengeluaran yang dilandasi tata nilai yang tidak hanya sebagai jargon semata, tetapi dapat dijalankan dengan baik, karyawan Indika Energy pun mampu melewatinya. (bersambung/VED)

You may also like