Istilah privilege artinya memiliki kemudahan atau keistimewaan sehingga untuk mencapai beberapa hal, individu tersebut nyaris tak perlu berusaha keras dalam mendapatkannya.

Ada berbagai macam dimensi privilege. Mulai dari kecakapan fisik, ekonomi, hingga status sosial. Hal ini dapat dipengaruhi oleh gen, latar belakang keluarga, pendidikan, lingkungan pergaulan dan banyak lagi.

Meski demikian memiliki privilege artinya tidak sekedar memanfaatkan hal tersebut untuk memudahkan kehidupan pribadi. Melainkan bagaimana keistimewaan tersebut juga dapat memberikan dampak yang lebih luas dan positif bagi orang lain. Simak penjelasan tentang privilege yang bermanfaat berikut ini.

Memiliki privilege artinya lebih banyak akses dan peluang yang terbuka lebar

Dewasa ini, memiliki privilege seakan menjadi bahan komparasi sosial yang membuat orang dengan keistimewaan tersebut merasa bersalah. Arsjad Rasjid menyadari bahwa banyak individu yang masih sering membandingkan diri dengan kehidupan dan kelebihan orang lain.

Namun, Arsjad punya keyakinan bahwa manusia sebenarnya terlahir dengan anugerah yang berbeda-beda. “Percaya deh bahwa Tuhan itu Maha Adil, kita tu diberikan kekuatan, kita diberikan keahlian, kita diberikan semuanya,” pesannya.

Dengan perspektif yang lebih luas, sebenarnya privilege bukan sesuatu yang perlu disangkal, melainkan amanah dan peluang untuk memberikan dampak sosial.

Sebagai contoh, individu yang punya privilege secara ekonomi dan mampu mengakses pendidikan yang lebih tinggi. Keistimewaan ini dapat disalurkan kembali dengan berbagi ilmu untuk mereka yang sulit mendapatkan pendidikan layak. Misalnya mentoring atau pelatihan gratis.

Dengan kata lain, seseorang yang memiliki privilege secara eksklusif dapat membuka pintu kesempatan melalui metode yang lebih inklusif. Sehingga lebih banyak orang bisa ikut merasakan manfaatnya.

Langkah-langkah menggunakan privilege dengan bijak

Untuk mengemban privilege yang dimiliki, perlu kemampuan berempati dan action yang seimbang. Berikut ini langkah praktis untuk menerapkan keistimewaan atau kelebihan kita dengan bijak.

1. Menyadari dan mengakui privilege

Pertama, sadari dan akui privilege yang dimiliki. Misalnya merefleksikan seputar kemudahan-kemudahan yang bisa didapatkan dalam hidup. Contoh: Dapat menempuh jenjang pendidikan tinggi tanpa susah payah, kemudahan provide makanan sehat untuk diri sendiri atau keluarga, kemudahan jenjang karir karena relasi dan sebagainya.

Sadari dan akui hal tersebut bukan sebagai kebanggaan, melainkan landasan untuk melakukan sesuatu yang lebih berdampak dengan cara yang bijaksana.

2. Mendengarkan dan belajar

Belajar untuk menempatkan kaki di sepatu orang lain yang kondisinya tidak sebaik kondisi kita, dapat membantu memahami kesulitan atau permasalahan yang terjadi di luar sana. Misalnya dengan lebih banyak observasi suara pembaca di pemberitaan, terjun langsung dalam aksi sosial atau melihat laporan keluhan konsumen.

Cara-cara ini membantu kita lebih empatik dalam mengidentifikasi permasalahan. Langkah penting ini akan memudahkan kita mencari pendekatan dan dukungan yang tepat, tanpa terkesan menggurui atau paling tahu.

3. Mengambil tindakan konkret

Langkah berikutnya adalah melakukan aksi nyata sebagai bentuk kontribusi atas privilege yang kita miliki. Lakukan sesuai kapasitas dan skala permasalahan. Berikut ini beberapa contohnya.

  • Privilege dalam networking karir dan pendidikan: Berbagi informasi peluang kerja atau beasiswa
  • Privilege pendidikan: Berbagi ilmu di media sosial atau membuka mentoring untuk bidang tertentu secara inklusif
  • Privilege popularitas/status sosial: Menggunakan pengaruh atau suara untuk mendukung isu sosial, mempromosikan usaha kecil dan membantu komunitas marginal.

Tantangan dan strategi implementasi

Mengimplementasikan praktik tersebut tentunya dapat berhadapan dengan sejumlah tantangan, baik internal maupun eksternal. Dalam beraliansi kepada kelompok yang kurang beruntung, diperlukan komitmen yang tulus dan konsistensi yang kuat agar dapat lebih berkelanjutan.

Oleh karena itu, kita perlu memperhatikan sejumlah hal berikut ini.

  • Siapkan diri menerima kritik sebagai perbaikan
  • Secara genuine memberikan ruang untuk aspirasi yang selama ini terpinggirkan
  • Mindset yang tulus dalam berkontribusi, tidak mengharapkan ucapan terima kasih atau imbalan lainnya.

BACA JUGA: Privilege adalah Fasilitas, tapi Kemandirian Menghasilkan Kepemimpinan Berintegritas

Memiliki privilege artinya kita perlu menyadari dan mengelola keberkahan tersebut agar dapat saling berkontribusi kepada insan lain yang lebih membutuhkan. Dengan cara yang empatik, kita dapat berkontribusi melalui metode yang lebih inklusif sehingga lebih banyak orang yang dapat terangkat menuju kondisi kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya.

You may also like

More in News