Hampir setiap orang pasti pernah berada di titik terendah dalam hidup. Fase di mana semua kegagalan seolah berjumpa satu sama lain hingga harapan yang terasa jauh. Hal ini kadang dipandang sebagai sesuatu yang buruk bahkan akhir dari segalanya. Namun, justru di momen inilah sebenarnya kebangkitan terjadi.
Seperti yang diungkapkan Arsjad Rasjid dalam sebuah postingan Instagram, titik terendah dalam hidup kerap menjadi semacam half time dalam perjalanan manusia. Founder Sriwijaya Capital ini pernah memaknai kehidupan layaknya pertandingan sepak bola. Ada babak pertama, ada babak kedua, dan di antaranya terdapat masa jeda untuk berhenti sejenak, berpikir, dan menata arah.
Di fase half time inilah seseorang merefleksikan apa yang ingin diperjuangkan di babak berikutnya. Maka jika kamu sedang berada di titik ini, jangan menyerah—karena bisa jadi itulah awal dari kebangkitan dan kesempatan untuk membuat perbedaan yang lebih besar.
Daftar Isi
Titik terendah dalam hidup karena berbagai kegagalan
Rasa ingin menyerah dan butuh jalan keluar
Momen terbaik untuk perenungan
Tips memulai langkah baru dari titik terendah
Titik terendah dalam hidup karena berbagai kegagalan
Titik terendah dalam hidup biasanya tidak terjadi karena satu hal saja, melainkan karena akumulasi kegagalan yang datang bertubi-tubi. Menciptakan efek domino yang memengaruhi berbagai sisi kehidupan. Entah karier, finansial, bahkan hubungan personal.
Di fase ini adalah momen di mana ego dan ekspektasi berbenturan keras dengan kenyataan. Kadang seseorang bisa menyerah ketika berada di situasi ini, namun sebenarnya momen tersebut bisa dibilang sebagai bentuk pengumpulan data paling otentik. Menunjukkan jelas apa yang sedang tidak berfungsi dalam kehidupan kita.
Rasa ingin menyerah dan butuh jalan keluar
Munculnya rasa ingin menyerah ketika beban sudah terasa melampaui kapasitas diri merupakan reaksi psikologis yang manusiawi. Saat itu seolah kita kehilangan kendali atas hidup sehingga menganggap usaha apapun yang dilakukan sia-sia. Di momen yang sama kita merasa hilang makna dan tujuan.
Alih-alih melakukan sebuah gebrakan, justru jalan keluar terbaik di masa seperti itu adalah menemukan kembali satu alasan kuat. Sehingga seseorang merasa kehidupannya layak untuk diperjuangkan kembali. Lakukan langkah-langkah kecil, raih small win, fokus pada yang bisa dikendalikan, bisa menjadi cara untuk perlahan bangkit dari keterpurukan.
Momen terbaik untuk perenungan
Titik terendah dalam hidup kerap kali membuat segala hal menjadi hening dan seolah memaksa kita untuk lebih jujur pada diri sendiri. Di masa ini lah saatnya melakukan perenungan mendalam. Misalnya dengan mengevaluasi cara berpikir dan bertindak kita selama ini, atau sekedar memisahkan mana hal yang bisa kita kendalikan dan harus dilepaskan.
Perenungan yang kita lakukan bisa kita fungsikan sebagai proses penyelarasan ulang segala tujuan hidup. Di samping untuk tujuan menyadari keterbatasan dan penerimaan diri. Sehingga ruang pembaruan bisa terbuka untuk memulai perjalanan baru yang penuh dengan harapan, seperti yang juga diungkapkan Arsjad Rasjid.
Tips memulai langkah baru dari titik terendah
Bangkit dari keterpurukan dalam tentu tidak bisa dilakukan secara instan. Namun kita bisa melakukan beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan untuk berproses menuju pemulihan diri. Misalnya berhenti menyalahkan diri sendiri, serta terima kegagalan adalah proses dari belajar.
Lakukan langkah-langkah kecil setiap harinya, tidak perlu langsung menargetkan hal yang besar. Small wins akan membantu kita untuk mengembalikan rasa percaya diri. Kita juga bisa lebih terbuka kepada orang-orang terdekat. Atau mencari mentor untuk mendapatkan perspektif yang baru.
BACA JUGA: Memahami Tahapan Berduka dan Cara Berbeda Orang Menjalani Rasa Kehilangan
Titik terendah dalam hidup setiap orang memang tidak sama. Namun apa pun itu kita harus bisa bangkit dan percaya bahwa itu bukanlah akhir. Percaya bahwa keterpurukan adalah jalan untuk menuju harapan baru yang lebih baik.













