Venture capital belakangan ini terlihat lebih pemilih dibandingkan beberapa tahun lalu, di mana dulu uang seolah begitu mudah mengalir hanya untuk tujuan pertumbuhan pengguna. Sekarang ini fokus investasi nampaknya sudah bergeser, bukan lagi soal seberapa viral sebuah aplikasi, bisnis, atau startup, melainkan seberapa kuat fondasi bisnisnya.

Kondisi yang terlihat lesu ini sering kali dianggap sebagai tanda bahwa modal untuk dunia usaha, termasuk bidang teknologi, sudah habis. Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu. Seperti yang dijelaskan oleh Arsjad Rasjid dalam sebuah postingan Instagram-nya, istilah tech winter mungkin kurang pas untuk menggambarkan situasi sekarang secara menyeluruh. Bagi perusahaan yang punya performa bagus, aliran dana sebenarnya tetap ada karena investor masih terus mencari bisnis dengan fundamental sehat dan potensi nyata untuk mencetak profit.

Kembalinya prinsip fundamental dalam investasi teknologi

Beberapa tahun terakhir, bayang-bayang tech winter memang memicu kekhawatiran luas. Namun menurut Arsjad Rasjid, pendanaan akan selalu tersedia bagi perusahaan yang mampu membuktikan profitabilitasnya. Fokus utama saat ini telah bergeser untuk kembali ke prinsip dasar (back to basic); keberlanjutan bisnis tidak lagi ditentukan oleh sentimen musim ekonomi, melainkan oleh efisiensi internal perusahaan itu sendiri.

Investor zaman sekarang menuntut bukti nyata bahwa sebuah bisnis tidak cuma bisa tumbuh besar, tapi juga bisa menghasilkan uang (make money). Mereka memprioritaskan efisiensi operasional dan ingin memastikan bahwa setiap rupiah yang disuntikkan bisa berputar menjadi keuntungan yang berkelanjutan. Status “musim dingin” sebenarnya hanya dirasakan oleh perusahaan yang sejak awal fondasinya rapuh. Jika sebuah startup punya fundamental yang kuat, mereka akan tetap terlihat menarik di mata investor meskipun kondisi pasar sedang penuh tantangan.

Peluang emas di tengah rendahnya noise kompetisi

Menariknya, situasi yang dianggap sulit ini sebenarnya adalah peluang emas (good opportunity) bagi para pengusaha. Saat ini kompetisi justru menjadi lebih rendah karena banyak pemain yang tidak siap secara mental dan finansial mulai berguguran. Hal ini memberikan ruang bagi para pendiri (founder) untuk membangun bisnis dengan lebih tenang.

Pasar yang tidak lagi bising (less noise) membuat para founder bisa lebih fokus memikirkan nilai utama produk mereka tanpa terganggu perang harga yang tidak sehat. Di Indonesia, fenomena ini tergambar dari data pendanaan; meskipun total pendanaan menyusut, 67% dari transaksi yang terjadi sepanjang 2025 tetap berada di tahap awal (seed dan Series A). Hal ini menunjukkan bahwa investor masih sangat percaya pada ide-ide baru yang kuat secara fundamental di tengah iklim yang terseleksi. Masa-masa tenang seperti ini justru menjadi waktu terbaik untuk membangun bisnis yang tahan banting.

Strategi venture capital yang tetap aktif bergerak

Keaktifan investor membuktikan bahwa modal di pasar sebenarnya tetap ada. Berdasarkan data KPMG Venture Pulse, arus pendanaan venture capital secara global sangat kuat; total investasi sepanjang tahun 2025 melampaui USD 500 miliar—salah satu tahun terkuat sepanjang sejarah—dengan kuartal keempat mencetak rekor di angka USD 138,1 miliar. Namun, aliran modal ini sangat terpusat, di mana sektor AI mendominasi dengan menyerap 52,7% dari total pendanaan global.

Kontras dengan tren global tersebut, situasi makro di Indonesia justru menunjukkan pengetatan yang tajam. Sepanjang 2025, total pendanaan startup lokal hanya mencapai USD 355,7 juta dari 91 transaksi (sekitar 11% dari puncaknya pada 2021). Porsi investasi Indonesia hanya menyumbang 6,3% dari total pendanaan di Asia Tenggara, dan tahun ini ditandai tanpa adanya unicorn baru yang lahir.

Pergeseran drastis ini mencerminkan fenomena Flight to Quality. Kondisi ini bukanlah tanda kemunduran ekosistem lokal, melainkan proses seleksi alam. Ke depan, aliran dana akan semakin selektif dan tematik, menyasar sektor-sektor esensial seperti AI, SaaS, climate tech, hingga healthtech.

BACA JUGA: 9 Solusi Pendanaan Modal UMKM, dari Tabungan Sendiri hingga Platform Digital

Istilah tech winter mungkin segera berlalu, namun standar tinggi yang ditinggalkannya kini menjadi aturan main baru di dunia investasi. Meyakinkan pemodal saat ini bukan lagi dengan mengikuti tren sesaat, melainkan dengan membuktikan kesehatan finansial. Selama perusahaan bisa menunjukkan hasil nyata, dukungan dana akan selalu ada untuk membantu mereka tumbuh menjadi besar di masa depan.

You may also like

More in News