Perasaan haus validasi adalah fenomena yang semakin umum terjadi di era media sosial. Kondisi ini dapat terbentuk karena rendahnya self esteem yang kurang disadari seseorang.
Saat individu tidak cukup memiliki penilaian positif akan dirinya, perasaan berharga akan diri mereka akan cenderung bergantung pada penilaian orang lain. Akibatnya, orang tersebut akan mencari validasi eksternal untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain.
Haus validasi adalah indikator adanya permasalahan yang lebih mendalam tentang harga diri seseorang. Yuk coba memahami penyebab, dampak dan bagaimana mengelola kondisi tersebut.
Daftar Isi
Haus validasi berakar dari masalah dalam diri
5 Dampak Negatif dari Ketergantungan pada Validasi
1. Ketidakstabilan emosi
2. Kehilangan jati diri
3. Kecemasan sosial
4. Stres berkelanjutan
5. Ketergantungan validasi digital
3 Tips mengatasi Kebutuhan Validasi Berlebihan
1. Positive self talk
2. Bangun self awareness
3. Fokus pada pengembangan diri dan bangun support system
Haus validasi berakar dari masalah dalam diri
Individu menjadi haus akan pengakuan eksternal karena beberapa faktor, antara lain pengalaman negatif di masa kecil, pengaruh media sosial dan lingkungan, self esteem yang kurang terbentuk dengan baik dan perfeksionisme dalam diri.
Kondisi ini membuat seseorang merasa tidak cukup berharga, membandingkan diri, mencari perhatian dari orang lain, selalu membutuhkan pujian setelah melakukan sesuatu hingga terlalu kompetitif.
Mencari validasi eksternal sebenarnya hanya akan memberikan rasa nyaman sementara. Bila tidak diperbaiki dari dalam diri, rasa berharga itu akan kembali menjadi kegelisahan dan kecemasan. Kondisi ini dapat menjebak seseorang akan pengakuan dan pujian terus menerus dari orang lain dan semakin melemahkan self esteemnya.
5 Dampak Negatif dari Ketergantungan pada Validasi
Mencari validasi eksternal secara berlebihan dapat menimbulkan ketergantungan dan sejumlah dampak pada mentalitas orang tersebut. Berikut ini beberapa dampak yang perlu kita waspadai.
1. Ketidakstabilan emosi
Emosi yang fluktuatif karena emosi kita juga bergantung pada respon dan pengakuan orang-orang di sekitar kita.
2. Kehilangan jati diri
Terlalu berupaya mendapatkan pengakuan eksternal membuat seseorang lebih sering fokus menyenangkan orang lain. Akhirnya melupakan jati diri yang sebenarnya.
3. Kecemasan sosial
Takut bila mendapatkan penolakan dari orang lain atau takut membuat keputusan yang berbeda dari orang lain.
4. Stres berkelanjutan
Selalu berupaya memenuhi ekspektasi orang lain dapat menyebabkan stres yang tak disadari.
5. Ketergantungan validasi digital
Umumnya terjadi di media sosial, di mana self esteem seseorang dipengaruhi oleh komentar dan jumlah likes di media sosial.
3 Tips mengatasi Kebutuhan Validasi Berlebihan
Membangun self esteem yang kokoh adalah kunci untuk membangun self validation. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan, antara lain sebagai berikut.
1. Positive self talk
Jangan terlalu keras pada diri sendiri, praktikkan self talk yang positif dan membangun rasa berharga. Misalnya dengan kemampuan menghargai kerja keras yang telah dilakukan, menyampaikan terima kasih dan rayakan sendiri pencapaian pribadi sekecil apapun.
Sampaikan pada diri sendiri bahwa kita mensyukuri kelebihan yang diberikan dan menerima bahwa tidak semua hal berjalan sempurna. Cara ini dapat membantu menyadari bahwa eksistensi dan pribadi kita sudah cukup bermakna.
2. Bangun self awareness
Kenali faktor pemicu dan pola saat kita membutuhkan validasi eksternal. Identifikasi penyebab dan pola pikir yang terjadi. Dengan demikian, akan membantu kita menemukan mekanisme respon yang sesuai terhadap kebutuhan validasi.
3. Fokus pada pengembangan diri dan bangun support system
Alihkan energi mencari pengakuan atau persetujuan orang lain dengan fokus pada pengembangan diri. Lebih banyak membaca buku, melatih keterampilan dan berkomunitas akan membuat cakrawala kita lebih luas.
Fokus pada membangun kualitas diri, melatih pikiran menerima kritik dan saran yang membangun, serta menemukan lingkungan yang mendukung pertumbuhan pribadi kita akan menunjang perbaikan self esteem yang lebih sustainable.
Mencari validasi eksternal hanya memberikan rasa nyaman sementara. Bagaimanapun, kita perlu memperbaiki diri dari dalam dan menjadi independen dari rasa haus akan pengakuan orang lain.
BACA JUGA: Haus Validasi Artinya Butuh Pengakuan, Ini Tips untuk Membangun Self-Compassion
Dengan sejumlah mindset di atas, akan menguatkan mentalitas kita dan membangun fondasi self esteem yang lebih matang. Bila kesulitan mengatasi permasalahan ini sendiri, jangan ragu berkonsultasi dengan profesional untuk mendapatkan bantuan yang lebih suportif.














