Belajar ikhlas adalah proses yang sama sekali tidak mudah, utamanya ketika hidup menuntut kita untuk merelakan sesuatu yang paling dicintai. Banyak orang berpikir hidup akan menjadi baik-baik saja selama segala rencana berjalan sesuai harapan. Tapi saat realita menghadirkan kehilangan, perpisahan, atau situasi tidak terduga, kemampuan kita menghadapi tekanan batin menjadi tantangan tersendiri.
Fenomena tentang pentingnya belajar ikhlas ini juga disinggung oleh Arsjad Rasjid melalui salah satu postingan Instagramnya. Ia menekankan bahwa merelakan bukan sekedar menerima kenyataan secara pasif, namun menyadari bahwa ada kehendak yang lebih besar di luar diri manusia, sesuatu yang tidak sepenuhnya bisa dikendalikan.
Dalam pengalaman batin tersebut, keterikatan dan ekspektasi kerap memberikan beban berat. Sehingga belajar ikhlas menjadi sesuatu yang penting untuk membentuk keseimbangan emosi.
Daftar Isi
Belajar ikhlas dalam perspektif psikologi: penerimaan dan kesehatan mental
Mengapa melepaskan sesuatu itu terasa berat?
Ikhlas sebagai keterampilan emosional yang bisa dilatih
Belajar ikhlas dalam kehidupan sehari-hari
Belajar ikhlas dalam perspektif psikologi: penerimaan dan kesehatan mental
Di dunia psikologi modern, konsep ikhlas memiliki kemiripan dengan istilah acceptance atau penerimaan terhadap segala sesuatu yang terjadi. Penerimaan ini sendiri merupakan bagian inti dari Acceptance & Commitment Therapy (ACT), yaitu sebuah pendekatan psikoterapi yang berfokus pada penerimaan pikiran, perasaan, dan pengalaman batin tanpa reaksi berlebihan.
Psikologi juga menunjukkan bahwa kemampuan acceptance memiliki kaitan erat dengan kesehatan mental yang lebih baik. ACT sendiri diketahui efektif dalam mengurangi gejala kecemasan dan depresi, serta meningkatkan kesejahteraan emosional ketika seseorang belajar menerima pengalaman batin mereka.
Mengapa melepaskan sesuatu itu terasa berat?
Salah satu alasan utama mengapa belajar ikhlas adalah hal yang sulit adalah karena sifat manusia yang secara alami melekat pada harapan, rencana, atau apa pun yang dianggap sebagai kendali atas hidupnya. Oleh karenanya, ketika sesuatu yang dianggap penting ini harus dilepas maka akan muncul respon emosional seperti marah, kecewa, dan sedih.
Dalam dunia psikologi ada konsep bernama letting go, di mana ini berkaitan dengan kemampuan melihat pikiran dan emosi sebagai pengalaman yang sifatnya sementara, bukan sesuatu yang harus dilawan atau ditolak. Letting go ini bisa membantu membentuk regulasi emosi yang lebih baik. Bukan dengan memaksa diri agar tidak merasakan sesuatu, tapi dengan melihat emosi sebagai bagian dari pengalaman batin yang akan berlalu.
Ikhlas sebagai keterampilan emosional yang bisa dilatih
Belajar ikhlas bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan lebih kepada cara kita merespon hal-hal yang tidak sesuai harapan. Rasa sedih, kecewa, atau kehilangan tetap ada, namun kita tidak membiarkan emosi itu mengendalikan kehidupan. Kemampuan ini disebut fleksibilitas psikologis, yakni kecakapan menerima apa yang sedang terjadi tanpa menolaknya. Namun tetap melangkah sesuai dengan nilai hidup yang dianggap penting.
Ikhlas tentu bukan bawaan lahir, tapi memiliki sikap ini ternyata bisa dengan berlatih. Bisa dimulai dari hal sederhana seperti menyadari emosi tanpa langsung bereaksi, melatih mindfulness, atau refleksi diri secara rutin. Disebutkan bahwa ketika seseorang memiliki fleksibilitas psikologis yang baik maka ia cenderung lebih mampu menghadapi perubahan, mengelola stres, dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik.
Belajar ikhlas dalam kehidupan sehari-hari
Dalam keseharian kita, belajar ikhlas sering hadir melalui momen-momen yang tidak diinginkan. Misalnya rencana yang gagal, hubungan yang harus usai, atau kesempatan yang harus terlewat begitu saja. Di saat inilah kita dihadapkan pada kenyataan yang tidak bisa diubah, membuat kita belajar menerima segala sesuatunya.
Belajar ikhlas membantu kita memahami bahwa menerima keadaan bukanlah menyerah atau berhenti berusaha. Ini adalah tanda kedewasaan emosional. Kemampuan untuk terus menjalani hidup meskipun tidak semuanya berjalan sesuai harapan. Dengan sikap seperti ini batin akan lebih tenang dan tidak mudah goyah, bahkan saat menghadapi kehilangan atau perubahan besar.
BACA JUGA: Memahami Tahapan Berduka dan Cara Berbeda Orang Menjalani Rasa Kehilangan
Memang belajar ikhlas bukanlah sesuatu yang mudah. Namun ketika kita mau menerima perasaan yang muncul tersebut kemudian percaya bahwa hidup tidak sepenuhnya berada di kendali kita, proses ini justru membuat kita lebih kuat. Ada ketenangan yang tumbuh saat kita menyadari bahwa ada kehendak yang lebih besar dari rencana manusia.














