Stoicism mindset adalah pendekatan filosofis asal Yunani yang masih relevan hingga saat ini dalam membantu manusia mengelola pandangan hidupnya.
Pendekatan ini mengajarkan bagaimana menghadapi kegagalan, mengelola stres serta mengatur respon terhadap apa yang bisa dan tidak dapat kita kendalikan di dunia yang serba tidak pasti ini. Arsjad Rasjid pernah mengatakan, dengan fokus pada hal-hal yang dapat kita kendalikan, kegagalan justru bisa berubah menjadi momen kebangkitan untuk comeback stronger.
Stoicism mindset adalah kunci ketahanan diri dalam mengarungi tantangan hidup baik dalam pekerjaan maupun kehidupan sehari-hari. Namun bagaimana aplikasinya dalam kehidupan? Simak penjelasannya di bawah ini.
Daftar Isi
Stoicism mindset adalah kunci meningkatkan ketahanan dan keseimbangan emosi
Menerapkan Stoic dalam kehidupan karir dan sehari-hari
1. Mengalihkan kekhawatiran dengan fokus pada hidup yang lebih berarti
2. Mengurangi ketergantungan pada opini orang lain
3. Menghargai waktu dan kehidupan
4. Menjaga keseimbangan dan empati
Stoicism mindset adalah kunci meningkatkan ketahanan dan keseimbangan emosi
Ingin memiliki “otot mental” yang tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan hidup dan karir? Kita perlu mengadopsi nilai-nilai stoic di mana prinsip utamanya adalah fokus pada apa yang bisa dikendalikan dan menerima hal yang berada di luar kendali kita.
Arsjad Rasjid dalam bahasan stoicism pernah membahas 4 kebajikan utama dalam stoic, yaitu kebijaksanaan, keberanian, keadilan, dan pengendalian diri. Dalam konteks pekerjaan maupun menjalani kehidupan sehari-hari, nilai-nilai tersebut dapat membantu kita untuk mengelola impuls dan emosi, serta mengembangkan disiplin dan efisiensi kinerja.
- Kebijaksanaan: Bayangkan kita sedang dihadapkan pada pengambilan keputusan yang penting di tempat kerja. Maka, lakukan pertimbangan yang mendalam dan seksama, bukan mengambil keputusan karena emosi sesaat.
- Keberanian: Misalnya kita dihadapkan pada sebuah project yang menantang, sehingga membuat diri gentar atau ragu. Keberanian membantu kita untuk tetap melangkah meski dengan hasil yang tidak pasti, misalnya lebih berani bicara untuk presentasi atau menyampaikan aspirasi dan berinovasi.
- Keadilan: Saat memegang amanah sebagai team leader atau pemimpin, sebisa mungkin membagi peran dengan adil dan menghormati hak-hak tiap anggota sehingga semua merasa dihargai dan termotivasi.
- Pengendalian diri: Saat berada dalam konflik atau stres, kita memilih untuk merespon daripada bereaksi. Respon berkaitan dengan apa yang dapat kita kendalikan sementara reaksi berhubungan dengan impuls dan emosi. Dengan merespon, kita mengelola impuls dan emosi sehingga tidak menimbulkan reaksi berlebihan saat menghadapi masalah.
Dengan menerapkan 4 kebajikan di atas, kita dapat memusatkan energi pada hal yang lebih produktif dan mengurangi kekhawatiran yang tidak perlu. Serta membangun ketahanan diri dalam menghadapi tantangan dan permasalahan hidup.
Menerapkan Stoic dalam kehidupan karir dan sehari-hari
Berada dalam dunia kerja yang penuh tekanan dan terus berubah, kita dihadapkan pada berbagai tantangan yang menguji ketahanan dan emosi.
Dengan menerapkan stoicisme, kita belajar bagaimana fokus pada hal yang dapat kita kendalikan secara efektif dan menerima realitas serta hal-hal yang tidak dapat kita ubah. Berikut ini adalah beberapa contoh penerapan stoic dalam kehidupan pekerjaan maupun sehari-hari.
1. Mengalihkan kekhawatiran dengan fokus pada hidup yang lebih berarti
Kekhawatiran dan keraguan berlebih membuat banyak orang menunda hal baik atau pencapaian hidup mereka. Dengan memahami dikotomi kendali, kita belajar menerima realitas dan fokus pada hal yang dapat dikendalikan.
Pusatkan energi pada hal-hal yang lebih berarti atau produktif. Misalnya mengupayakan sebaik-baiknya daripada menghabiskan waktu untuk meragukan diri sendiri atau mengkhawatirkan hal yang belum terjadi.
2. Mengurangi ketergantungan pada opini orang lain
Batasi pengaruh opini atau validasi orang lain pada kehidupan kita. Yakinlah pada nilai dan pandangan kita sendiri, terutama dalam membangun self esteem atau mengambil keputusan penting untuk pekerjaan maupun urusan pribadi.
3. Menghargai waktu dan kehidupan
Stoic mengajarkan kita untuk lebih menghargai waktu dan memanfaatkannya dengan bijaksana. Dengan menyadari hal tersebut, kita didorong untuk menjadi individu yang menjalani setiap momen dengan lebih bermakna, tetapi juga hidup dengan memiliki tujuan.
4. Menjaga keseimbangan dan empati
Dalam menerapkan stoic, kita juga perlu menjaga keseimbangan. Kelemahan stoic salah satunya adalah terlalu mengedepankan rasionalitas dan kontrol diri, hal ini dapat mempengaruhi empati kita pada orang lain. Penting untuk tetap memiliki kepekaan emosional baik pada diri sendiri maupun orang-orang di sekitar kita.
Kesimpulannya, stoicism mindset adalah metode efektif dan relevan untuk meningkatkan resiliensi dan keseimbangan emosional dalam menjalani kehidupan modern, baik di lingkungan kerja maupun personal.
BACA JUGA: Stoic Adalah Filosofi yang Tepat untuk Menjaga Work-Life Balance, Simak Tipsnya
Dalam penerapannya, menerima realitas dan memahami pengendalian diri adalah hal yang penting. Namun tidak mengesampingkan kepekaan sebagai manusia dan tetap menjadi manusia yang memiliki tujuan hidup.













