News

Arsjad Rasjid: Separuh Pendapatan Indika Energy di 2025 Berasal dari Bisnis Non Batu Bara

PT Indika Energy Tbk (INDY) menargetkan kontribusi 50 persen pendapatan dari bisnis non batu bara pada 2025. Direktur Utama PT Indika Energy Tbk Arsjad Rasjid menuturkan, perseroan telah bertransformasi sejak 2018 dengan melakukan diversifikasi usaha di luar sektor batu bara.

Langkah ini dilakukan Indika Energy sebagai upaya untuk menerapkan bisnis yang memegang komitmen standar environment, social, governance (ESG).

“Komitmen pendapatan kami ke depan the next five years, pada 2025, 50 persen pendapatan dari non batu bara. Bukan tinggalkan batu bara, tetapi kami melihat pengembangan ke depan. Portofolio pengembangan usaha ke depan, masuk ke tambang emas, energi baru dan terbarukan, energi biomassa, terminal bahan bakar, teknologi digital karena antisipasi industri 4.0 dan rencana kami masuk electric vehicle,” ujar Arsjad Rasjid dalam diskusi virtual, Senin, 12 April 2021.

Arsjad menuturkan, sektor energi dan mineral juga menghadapi tantangan, termasuk pandemi Covid-19. Salah satunya, tantangan yang harus dijawab saat ini adalah transisi energi menuju energi baru dan terbarukan.

Arsjad menilai, menuju energi baru terbarukan merupakan suatu keniscayaan, sehingga perlu kembali melihat energi yang dimiliki Indonesia agar bisa dioptimalkan untuk masyarakat.

“Kita perlu memastikan Indonesia memiliki berbagai solusi energi yang beragam dan berpotensi, termasuk aspek keekonomiannya. Energi terbarukan, sistem energi, terus berkembang dan semakin murah setiap tahun. Ini dapat diupayakan menjadi akselerasi transisi energi,” kata dia.

Untuk pengembangan energi baru dan terbarukan, Arsjad menuturkan, perseroan membentuk perusahaan PT Empat Mitra Indika Tenaga Surya (EMTS). PT Indika Energy Tbk menggandeng Fourth Partnery Energy (4PEL), pengembang solusi tenaga surya di India.

“Kami sudah komitmen investasi USD 500 juta ke depan untuk lima tahun. Sambil melihat perkembangan yang ada, kami ingin kolaborasi. Bergotong royong, bagaimana bisa joined forces sehingga bisa hasilkan lebih cepat,” kata dia.

Selain itu, perseroan bersama anak perusahaan PT Indika Energy Infrastructure juga mendirikan perusahaan bernama PT Electra Mobilitas Indonesia (EMI). Perusahaan ini akan mengembangkan sektor usaha kendaraan listrik.

Arsjad menuturkan, Indonesia harus siap untuk masuk mengembangkan kendaraan listrik. Ia melihat ada peluang berkompetisi dengan manufaktur dari luar negeri. Hal ini juga mendorong perseroan ikut masuk ke sektor usaha kendaraan listrik.

Apalagi, tingkat komponen dalam negeri (TKDN), terutama yabg terkait dengan baterai listrik juga banyak di Indonesia. Arsjad yakin Indonesia dapat berada di depan untuk mengembangkan sektor kendaraan listrik.

“Kita beli teknologi dari luar negeri bawa ke Indonesia, dan mengembangkannya. Kalau kembangkan dari awal take time. Kita percaya Indonesia bisa berkompetisi. Kita juga bisa berkolaborasi menciptakan sesuatu yang kuat,” kata dia. (VED)

You may also like