News

Dukung Ekonomi Bali, Arsjad Rasjid Sarankan Pengembangan 6 Sektor

JAKARTA – Pengusaha nasional Arsjad Rasjid merekomendasikan setidaknya ada enam sektor usaha yang layak untuk dikembangkan guna mendorong kinerja pertumbuhan ekonomi Bali yang masih mengalami kontraksi selama dua tahun terakhir.

Dalam kondisi normal, kata dia, pertumbuhan ekonomi Bali selalu berada di atas rata-rata nasional. Karena tekanan pandemi Covid-19, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, ekonomi Bali terus menyusut berturut-turut pada 2020 dan 2021.

 

“Pandemi Covid-19 yang terjadi mulai Maret 2020 dan hingga sekarang, memukul perekonomian Bali hingga mengalami kontraksi dan bertahan sebagai provinsi dengan kinerja ekonomi terburuk dalam dua tahun terakhir,” ujar Arsjad yang saat ini menjabat sebagai Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia di Jakarta, Kamis (24/03).

Selama ini, lanjutnya, perekonomian Bali menggantungkan harapannya pada dunia pariwisata. Belajar dari kasus pandemi seperti sekarang, Bali harus mengembangkan sumber pertumbuhan ekonomi baru, yang tentunya perlu mendapatkan dukungan dari pemerintah pusat serta dunia usaha.

“Covid-19 memberikan pelajaran berharga. Bali tidak boleh hanya bergantung pada sektor pariwisata. Setidaknya ada enam sektor yang bisa dikembangkan untuk menjadi basis roda ekonomi yang baru,” jelas Arsjad.

Enam sektor tersebut, yakni sektor akomodasi dan makan minum, sektor pertanian, sektor konstruksi, sektor perdagangan, sektor informasi dan komunikasi, serta sektor pengolahan. Sebelum krisis yaitu pada 2012-2019, keenam sektor tersebut memiliki pertumbuhan positif berkisar dari 3,5 persen hingga 8,0 persen.

“Sektor-sektor tersebut sangat potensial karena kontribusinya terhadap ekonomi Bali. Paling besar kontribusinya ialah sektor akomodasi dan makan minum sebesar 14,9 persen di saat sebelum krisis dan yang paling kecil ialah sektor pengolahan yakni sebesar 6,7 persen  sebelum krisis melanda,” paparnya.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian Provinsi Bali pada 2021 masih menyusut 2,5 persen, seperti tahun sebelumnya yang juga mengalami kontraksi. Kinerjanya berada di urutan buncit alias nomor terakhir dari 34 provinsi di Indonesia.

Dari sisi pengeluaran, tekanan ekonomi Bali setidaknya berasal dari dua komponen penting yaitu investasi dan ekspor luar negeri, yang utamanya berasal dari sepinya aktivitas pariwisata akibat pembatasan mobilitas masyarakat yang diberlakukan banyak negara, termasuk dalam hal rekreasi.

Penurunan kegiatan pariwisata tersebut berimbas pada kunjungan wisatawan mancanegara ke Pulau Dewata. Pada masa normal seperti dicatat BPS, yaitu 2019, wisatawan mancanegara yang berkunjung mencapai 6,3 juta orang, kemudian tersisa 1,1 juta pada 2020 dan hanya 51 wisatawan di tahun lalu.

Begitu pun dengan wisatawan domestik. Pada 2019, ada 10,5 juta orang yang berkunjung ke Bali, selanjutnya tersisa 4,6 juta pada 2020 dan 4,3 juta di 2021.

“Oleh karena itu, Bali harus diselamatkan. Bali sangat strategis bagi Indonesia. Namun untuk bisa dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah dan dunia usaha untuk mewujudkan hal tersebut. Kadin Indonesia dan dunia usaha selalu siap menjadi mitra pemerintah,” tutup Arsjad.

You may also like