Berasumsi adalah salah satu kebiasaan yang tanpa disadari menjadi bagian dari keseharian kita. Subjektivitas asumsi tidak jarang membuat seseorang memiliki dugaan-dugaan yang belum tentu benar adanya.

Meskipun sepele, kebiasaan berasumsi yang kurang terkontrol dapat menciptakan habit pikiran negatif hingga keretakan dalam hubungan sosial maupun personal. Seperti mudah curiga, pesimis, atau mudah menghakimi.

Jika berasumsi adalah kebiasaan yang membuat mood kamu berantakan, simak penjelasan dan pesan Arsjad Rasjid berikut ini agar tidak mudah overthinking.

Berasumsi adalah pikiran subjektif yang bermuatan emosi

Asumsi seringkali terbentuk saat otak mencoba mengisi celah pikiran dengan interpretasi pribadi. Emosi dan pengalaman masa lalu berperan dalam pembentukan interpretasi tersebut.

Hal ini berkaitan dengan sejumlah teori psikologi. Seperti Teori Atribusi yang menjelaskan bagaimana individu memiliki kecenderungan interpretasi berdasarkan pengalaman pribadi. Sementara Aaron Beck dalam teorinya tentang emotional reasoning menjelaskan bagaimana emosi berpengaruh terhadap cara berpikir dan membuat kesimpulan.

Kebiasaan berasumsi juga dapat menyebabkan bias kognitif, di mana otak salah dalam memproses dan menafsirkan informasi. Bias ini menjadi mekanisme pengambilan keputusan dan kesimpulan yang lebih cepat, tetapi kurang akurat dan tidak rasional.

Kebiasaan berasumsi dapat menjadi hasil dari produk lingkungan, hasil pengasuhan dan budaya yang dikenal sejak kecil.

Dampak jangka panjang dari kebiasaan berasumsi

Meskipun asumsi adalah hal yang umum terjadi, kebiasaan menalar secara subjektif semacam ini sebaiknya diperbaiki. Berikut ini beberapa dampak yang tidak disadari dapat mempengaruhi mindset kita.

1. Sering berpikiran negatif dan ragu-ragu

Asumsi yang bersifat subjektif mendorong otak kita pada mode “fight” sehingga memunculkan pemikiran atau perasaan buruk. Hal ini dapat mempengaruhi suasana hati dan ketahanan otot mental.

2. Merusak hubungan

Asumsi dapat menyebabkan kecurigaan dan prasangka, sehingga orang merasa terjebak atau tidak dipahami. Hal ini dapat menekan keinginan untuk mendengarkan maupun berkomunikasi efektif sehingga mengancam keberlangsungan hubungan.

3. Menghambat peluang

Terpaku pada satu cara pandang dapat menghambat kreativitas dan kemajuan dalam pola pikir kita. Misalnya menjadi sulit membuka diri pada upaya rekonsiliasi, mudah menghakimi seseorang atau kejadian, atau salah mengambil keputusan.

Cara mengelola kebiasaan berasumsi

Sadari bahwa kebiasaan berasumsi dapat berdampak sistemik pada diri sendiri maupun hubungan dengan orang lain. Lakukan beberapa tips dari Arsjad Rasjid berikut ini untuk memperbaiki mindset agar seimbang antara empati dan rasionalitas.

1. Lakukan refleksi atas asumsi yang muncul

Saat pikiran negatif muncul, coba ajukan pertanyaan pada diri sendiri tentang seberapa yakin kita akan pemikiran tersebut. Evaluasi dengan melihat fakta yang ada, bukan hanya berdasarkan perasaan atau sentimen kita terhadap seseorang atau sesuatu. Pikirkan kemungkinan alternatif penjelasan lain atau bukti-bukti yang mendukung asumsi tersebut.

2. Komunikasi adalah kunci

Arsjad Rasjid selalu menekankan pentingnya komunikasi agar terjadi sinergi yang tepat antara kita dan lawan bicara. Bila ada statement atau situasi yang membingungkan, jangan ragu untuk mengajukan pertanyaan atau mengkomunikasikan apa yang kita pikirkan.

3. Mendengarkan dengan seksama

Saat mencoba melakukan dialog untuk menghadapi atau menyelesaikan masalah, fokus untuk mendengarkan dengan seksama dan pahami betul maksud yang ingin disampaikan hingga selesai. Cara ini menghindarkan kita dari pengambilan kesimpulan yang keliru atau terlalu cepat.

4. Praktik mindfulness dan menulis jurnal

Latih diri untuk mengembangkan mindfulness dan mengamati pikiran kita sendiri. Misalnya dengan menulis jurnal, menepi dari kesibukan dan mengambil waktu sendiri, atau melakukan meditasi.

Cara-cara ini dapat membantu menuangkan asumsi yang terbentuk ke dalam tulisan, mengidentifikasi dan mengurai di mana celah perbaikan yang perlu dilakukan.

Sadari dan kenali kebiasaan berasumsi kita dengan sejumlah tips di atas. Membangun pola pikir yang lebih seimbang antara rasional dan empatik, dapat membentuk kebiasaan berpikir yang konstruktif dan lebih sehat.

BACA JUGA: Terjebak Siklus Rat Race, Apa Dampak dan Bagaimana Cara Mengatasinya?

Mari membangun kebiasaan komunikasi terbuka, memastikan dan verifikasi informasi sebelum menyimpulkan, serta menerima bahwa ketidakpastian adalah hal yang normal dalam menjalani hidup.

You may also like

More in News