News

Awal Mula Arsjad Rasjid Merintis Bisnis yang Kini Beraset Rp 50 Triliun

Arsjad Rasjid adalah seorang pengusaha muda di Tanah Air yang memiliki perjalanan karier cukup cemerlang. Kesuksesan itu mengantarkan namanya masuk menjadi salah satu calon kuat ketua umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia periode 2021-2026.

Arsjad yang lahir di Jakarta, 16 Maret 1970, dibesarkan oleh seorang ayah yang berlatar belakang militer dan pengusaha. Hal ini menjadikan Arsjad Rasjid  tumbuh sebagai pribadi yang pantang menyerah. Menimba ilmu di sejumlah sekolah ternama, turut mengantarkannya menjadi Presiden Direktur PT Indika Energy Tbk.

Bukan hanya ayah. Sosok ibu juga selalu mengingatkan dirinya akan arti penting dunia pendidikan serta mengajarkan bagaimana menjadi dewasa dan bertanggung jawab.

Atas arahan dan bimbingan kedua orangtuanya tersebut, sejak umur 10 tahun Arsyad menempuh sekolah dasar (SD) di Singapura. Di sana ia tinggal dengan seorang kerabat yang berketurunan Arab.

Setelah lulus dari SMP di Singapura, Arsyad melanjutkan pendidikan di San Marino, Amerika Serikat. Selama menempuh pendidikan di sana, Arsjad bertemu dengan Agus Lasmono Sudwikatmono untuk pertama kali. Perkenalan keduanya terbilang menarik, karena awalnya mereka mengira datang dari negara yang berbeda.

Pada 1995, setelah menyelesaikan kuliah, Arsjad dan Agus kembali ke Indonesia dan mendirikan PT Prabu Wahana, yang merupakan cikal bakal Indika saat ini.

Di awal perintisannya, bisnis Prabu Wahana bergerak di bidang multimedia. Kemudian seiring waktu, nama Prabu Wahana berganti menjadi Indika yang merupakan akronim dari Industri Multimedia dan Informatika.

Lewat payung Indika, mereka kemudian mendirikan perusahaan bernama Indika Piranti Solusindo. Waktu itu bisnis tersebut masih seputar kartu kredit, pembuatan smart card dan penjualan mesin  Electronic Data Capture (EDC).

Namun, pada 1998 krisis moneter melanda dan di waktu yang bersamaan Sudwikatmono jatuh sakit. Arsjad lalu turut membantu membereskan perusahaan milik ayah Agus yang direstrukturisasi BPPN.

Kemudian pada 2003, Arsjad dan Agus berniat membangun pembangkit listrik tapi terkendala modal. Akhirnya mereka memutuskan pergi ke Tiongkok untuk mencari rekanan.

Di sana, keduanya mendapat peluang dari perusahaan yang tengah mencari batubara untuk pembangkit listrik. Peluang itu dibaca Arsjad dengan baik hingga membuatnya segera mencari tambang batubara, meski tidak ada modal untuk membeli tambang.

Sampai akhirnya usaha yang dilakukan Arsyad berbuah manis dan membuat perusahaan asal Tiongkok mau membiayai pembelian tambang tersebut.

Kejadian itulah yang pertama kali membuat Arsjad dan Agus berkecimpung di industri batubara hingga kemudian melahirkan Indika Energy. Kini, Indika menjadi salah satu perusahaan besar batubara di Tanah Air. Hebatnya, pada 2020 aset Indika Energy Tbk telah mencapai Rp 50 triliun.

Dalam perjalanan kariernya, Arsyad beberapa kali dipercaya menjadi komisaris di perusahaan bergengsi. Beberapa di antaranya Komisaris PT Net Mediatama Televisi (NET), Komisaris PT Grab Teknologi Indonesia, Presiden Komisaris PT Petrosea Tbk (2015-2016), Komisaris PT Tripatra Engineers & Constructors dan masih banyak lagi.

Meski memimpin perusahaan besar, Arsyad selalu melibatkan keluarga dalam setiap keputusan pentingnya. Begitu pula saat dirinya pernah diisukan masuk ke dalam jajaran kabinet Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Dalam pernyataannya, keluarga Arsyad lebih merestuinya jika menggeluti dunia bisnis. Lebih lanjut, menurut Arsjad, jabatan seorang menteri adalah panggilan negara. Namun jika keluarga tak merestui maka akan sulit berjalan.

Tawaran lain yang datang padanya adalah pencalonan ketua umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin). Dia kembali mendiskusikannya bersama keluarga dan berkonsultasi dengan beberapa senior mengenai kepatutannya. Ternyata, para senior mendukung penuh pencalonannya tersebut. (VED)

You may also like