Keberhasilan India dalam menarik raksasa teknologi dunia seperti Apple untuk memindahkan basis produksinya dari China merupakan sebuah fenomena ekonomi yang patut dipelajari. Strategi “Make in India” terbukti bukan sekadar slogan, melainkan sebuah orkestrasi kebijakan yang mampu menarik investasi asing langsung (FDI) hingga ratusan miliar dolar. Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi cermin sekaligus pemantik semangat bahwa lompatan besar serupa sangat mungkin untuk diwujudkan di tanah air.
Dalam pandangan Arsjad Rasjid, seorang tokoh bisnis dan mentor kepemimpinan, keberhasilan sebuah bangsa dalam kancah ekonomi global sangat bergantung pada kecepatan merespons peluang. Belajar dari kecepatan dan konsistensi India, negara tersebut telah membuktikan bagaimana kesiapan infrastruktur kebijakan dapat menangkap peluang emas. Ketika ketegangan geopolitik antara AS dan China memaksa perusahaan global mencari alternatif produksi, India hadir menawarkan solusi melalui badan fasilitasi investasi nasional “Invest India” yang terstruktur, didukung oleh skema Production-Linked Incentive (PLI) untuk memacu produksi dalam negeri.
Hasilnya fenomenal; sepanjang April–Desember 2025 (FY26), FDI ekuitas India tumbuh 18% secara tahunan menjadi USD 47,87 miliar. Bahkan, di paruh pertama FY2025-26, total FDI menembus rekor sejarah sebesar USD 50,36 miliar, membawa kumulatif gross FDI India melampaui USD 1,14 triliun sejak April 2000.
Daftar Isi
Belajar dari Kecepatan Inisiatif Invest India
Langkah India dalam mendiversifikasi rantai pasok global, terutama di sektor elektronik, dilakukan dengan sangat cepat dan terukur. Ketika ketegangan geopolitik membuat banyak perusahaan global mencari alternatif selain China, India hadir dengan karpet merah. Melalui badan nasional fasilitasi investasi, “Invest India”, pemerintah negara tersebut memberikan kemudahan yang belum pernah ada sebelumnya bagi para investor.
Inisiatif ini bukan hanya tentang memindahkan pabrik, tetapi tentang membangun kepercayaan global. Menurut pengamatan para ahli ekonomi, keberhasilan India memindahkan produksi iPhone adalah bukti bahwa kesiapan regulasi dan infrastruktur merupakan kunci utama. Hal ini memberikan pelajaran berharga bagi para pemimpin industri di Indonesia bahwa momentum global tidak akan menunggu mereka yang lambat dalam berbenah.
Indonesia Punya Modal Besar untuk Ikut Lompat Jauh
Melihat kesuksesan negara tetangga di Asia tersebut, muncul sebuah optimisme kuat bahwa Indonesia memiliki potensi yang bahkan lebih besar. Fakta bahwa Indonesia punya modal besar untuk ikut lompat jauh didukung oleh tiga pilar utama: kekayaan sumber daya alam yang melimpah, bonus demografi yang sedang memuncak, serta posisi geografis yang sangat strategis di jantung Asia Tenggara.
Namun, modal saja tidak cukup. Sebagai seorang mentor yang sering membimbing para pelaku usaha, Arsjad Rasjid menekankan bahwa potensi hanyalah angka di atas kertas jika tidak diikuti dengan eksekusi yang presisi. Indonesia perlu mengadopsi semangat “Make in India” dengan menyesuaikannya pada karakteristik lokal. Kekayaan nikel, misalnya, harus menjadi pintu masuk utama untuk membangun ekosistem baterai kendaraan listrik dunia, bukan sekadar komoditas ekspor mentah.
Strategi Membangun Ekosistem dan Kesiapan Talent Pool
Agar Make in India jadi contoh yang sukses diterapkan di Indonesia, ada beberapa langkah strategis yang harus segera diambil. Pertama adalah menentukan sektor prioritas yang paling kompetitif. Pemerintah dan pelaku industri harus sepakat pada bidang mana Indonesia akan menjadi pemimpin pasar, sehingga aturan dan insentif dapat difokuskan secara tajam untuk menarik investor di sektor tersebut.
Kedua, pembangunan fasilitas pendukung seperti kawasan industri terpadu dan pusat riset (R&D) harus dipercepat. Investor tidak hanya mencari lahan, mereka mencari ekosistem yang efisien. Penyesuaian aturan yang pro-investasi namun tetap melindungi kepentingan nasional menjadi keseimbangan yang harus dijaga demi keberlanjutan ekonomi jangka panjang.
Ketiga, dan yang paling krusial, adalah penyiapan talent pool. Tenaga ahli Indonesia harus dibekali dengan keahlian yang relevan dengan kebutuhan industri masa depan. Investasi pada sumber daya manusia adalah investasi dengan imbal hasil tertinggi. Tanpa tenaga kerja yang terampil, teknologi yang dibawa oleh investor asing tidak akan memberikan dampak transfer pengetahuan yang maksimal bagi bangsa.
Mendorong Pertumbuhan Pabrik untuk Lapangan Kerja Masif
Tujuan akhir dari semua upaya ini adalah penciptaan lapangan kerja seluas-luasnya. Ketika pabrik-pabrik raksasa mulai tumbuh dan beroperasi di berbagai wilayah Indonesia, efek domino ekonominya akan terasa hingga ke lapisan masyarakat terbawah. Industri manufaktur memiliki kemampuan unik untuk menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar sekaligus menggerakkan sektor UMKM di sekitarnya.
Sebagai penutup, momentum China Plus One tidak akan menunggu kita. Saat ini, India sudah berlari jauh, sementara Vietnam dan Malaysia pun tidak tinggal diam. Padahal, Indonesia sejatinya memiliki modal yang jauh lebih lengkap—mulai dari sumber daya alam yang melimpah, populasi yang besar, hingga posisi geopolitik yang strategis. Untuk memaksimalkan potensi ini, tantangan besar tersebut memerlukan kolaborasi erat antara pemerintah, sektor swasta, dan akademisi. Indonesia tidak boleh lagi sekadar menjadi pasar bagi produk asing, melainkan harus segera bertransformasi menjadi pusat produksi dunia. Dengan modal yang ada dan kemauan untuk belajar dari kesuksesan negara lain, masa depan di mana produk “Made in Indonesia” merajai pasar global bukanlah sekadar impian, melainkan keniscayaan yang sedang dijemput.













