Ingin tahu bagaimana sejarah panahan, dari sebuah kebudayaan hingga menjadi olahraga yang digemari masyarakat?

Ya, olahraga panahan kini kian mendunia, termasuk di Indonesia. Seperti badminton atau sepakbola, aktivitas yang dilakukan dengan menarik anak panah di busur, lalu melepaskannya ke target sasaran ini semakin disukai oleh banyak orang. Lebih dari itu, olahraga panahan juga memberi kontribusi untuk mengharumkan nama bangsa di pentas dunia. Terbaru, Ketua Umum PB Perpani Arsjad Rasjid, memberikan semangat kepada para atlet panahan Indonesia untuk bisa mendapatkan hasil terbaik pada olimpiade di tahun depan.

Bicara tentang sejarah panahan, ternyata olahraga ini diawali dari kemampuan untuk bertahan hidup. Sebuah seni yang telah diasah sejak zaman nenek moyang dan terus dilakukan hingga sekarang. Bahkan olahraga ini menjadi andalan Indonesia untuk mendulang prestasi dan medali emas untuk event olahraga internasional.

Sejarah panahan dunia dimulai dari berburu dan berperang

Dikutip dari situs worldarchery.sport, sejarah panahan pertama kali dilakukan sejak 10.000 tahun sebelum Masehi, atau masa Paleolitik akhir. Dikatakan bahwa ini merupakan budaya dari masyarakat Mesir dan Nubia yang menggunakan busur dan anak panah untuk berburu dan berperang.

Kebudayaan ini terus berkembang hingga ke Tiongkok, di mana ditemukan bukti-bukti bahwa seni ini sudah ada sejak Dinasti Shang (1766-1027 SM). Selain itu, ada juga bukti sejarah panahan berupa kereta perang yang membawa tiga orang, masing-masing pengemudi, lancer, dan pemanah.

Di Tiongkok pula seni bertahan hidup ini bertransformasi menjadi hiburan dan olahraga. Tepatnya pada masa Dinasti Zhou (Chou) (1027-256 SM), di mana para bangsawan istana disebut memiliki turnamen olahraga panahan yang diiringi dengan alunan musik.

Pada abad keenam, masyarakat Tiongkok memperkenalkan panahan kepada Jepang. Para pemanah dari Negeri Matahari Terbit kemudian menambahkan teknik dan etiket di dalam olahraga ini, yang kemudian dikenal dengan kyujutsu atau seni memanah (sekarang populer sebagai kyudo atau cara memanah).

Sementara di Eropa, sejarah panahan diketahui pada periode Yunani-Romawi di mana masyarakat di masa itu menggunakannya sebagai sarana berburu. Dalam ukiran-ukiran tembikar digambarkan bahwa para pemanah juga menunggang kuda, mengembangkan kemampuan mereka dengan melesatkan anak panah sambil berputar di atas pelana atau menembak ke belakang.

Dalam sejarah peperangan, busur dan anak panah juga memiliki peran dalam mengubah wajah dan tatanan dunia. Dimulai dari bangsa Asyur dan Parthia, kemudian sang legenda Attila sang Hun dan pasukan Mongol yang menaklukkan sebagian besar Eropa dan Asia, hingga pasukan pemanah Turki yang berhasil memukul mundur Tentara Salib.

Sejarah panahan juga menghiasi dunia mitologi. Siapa yang tidak kenal dengan Robin Hood? Sosok perampok yang berpetualang di sekitar hutan Sherwood dan dicintai rakyat, namun dibenci bangsawan. Begitu juga dalam mitologi Yunani, di mana panahan juga ditemukan dalam kisah cinta Penelope dan Odysseus.

Sejak abad pertengahan, panahan sudah jadi ajang kompetisi

Catatan tentang kompetisi memanah secara sportif dan terorganisir diperkirakan sudah ada sejak abad pertengahan. Sebuah event yang diperkirakan digelar tahun 1583 dan diikuti oleh sekitar 3000 peserta diselenggarakan di Finsbury, Inggris.

Perubahan zaman yang membuat manusia akhirnya mengandalkan bubuk mesiu dan peluru sebagai senjata peperangan akhirnya juga mengubah sejarah panahan. Dari kemampuan berburu dan berperang, panahan mulai dikenal masyarakat sebagai olahraga untuk rekreasi dan kompetisi.

BACA JUGA: Kusuma Wardhani: Mengenang Sosok Legendaris di Dunia Panahan Indonesia

Pada akhirnya, olahraga panahan tetap lestari. Bukan lagi sebagai senjata untuk memenangkan peperangan atau mencari hewan buruan, namun terus berkembang menjadi sarana untuk berprestasi, baik lewat pertandingan-pertandingan profesional maupun sebagai hobi di kala senggang.

You may also like

More in News