The World Bank pernah menegaskan bahwa bidang jasa, telah menjadi penolong ekonomi Indonesia dan Asia dalam beberapa tahun terakhir. Secara statistik, sektor jasa di Indonesia telah memberikan kontribusi sekitar 45% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dan menyerap mayoritas tenaga kerja di tanah air.
Meski demikian, terdapat paradoks di lapangan yang perlu solusi strategis. Arsjad Rasjid melihat, bagaimana sektor tersebut menyerap tenaga kerjanya masif, tetapi produktivitas secara rata-rata masih tergolong rendah.
Arsjad Rasjid menyoroti bahwa sektor jasa bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional. Bagaimana pengelolaannya untuk mencapai hal tersebut? Berikut ini penjelasannya.
Daftar Isi
Transformasi formal bidang jasa menjadi kunci produktivitas nasional
Sinergi strategis: Sektor jasa sebagai penopang manufaktur
Modernisasi dan peluang ekspor jasa profesional
Transformasi formal bidang jasa menjadi kunci produktivitas nasional
Kendati menjadi tulang punggung ekonomi bangsa, mayoritas pelaku sektor jasa di Indonesia masih bergerak di ranah informal. Dampaknya, kegiatan ekonomi yang tidak terstruktur cenderung kurang mampu mengadopsi teknologi modern secara maksimal dan memiliki nilai tambah yang kecil.
Arsjad Rasjid melihat pentingnya visi utama dalam melakukan transformasi besar-besaran, untuk menggeser jasa tradisional menuju jasa modern yang berbasis nilai tambah tinggi (high-value added services).
Penataan ulang sektor jasa ini dapat dilakukan dengan mendorong proses “upgrade” dari status informal ke formal. Transisi ini bukan sekadar urusan administratif, melainkan menyangkut peningkatan standar kualitas dan daya saing.
Arsjad Rasjid menekankan fokus utama harus diarahkan pada pengembangan modal manusia (human capital). Sektor jasa sangat bergantung pada kapasitas manusia, sehingga intervensi kebijakan harus meliputi:
- Upskilling & Reskilling: Peningkatan keterampilan dan pelatihan ulang bagi tenaga kerja agar lebih adaptif terhadap standar industri global.
- Adaptasi Teknologi: Mendorong tenaga kerja jasa untuk mahir menggunakan instrumen digital sehingga menunjang efisiensi dan perluasan jangkauan layanan.
- Sertifikasi Profesional: Memastikan bahwa jasa yang ditawarkan memenuhi kualifikasi formal yang diakui, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Dengan mengubah basis jasa dari informal menjadi formal, produktivitas per tenaga kerja akan lebih upgrade dan terstandar. Di mana hal ini akan mendongkrak SDM yang kompetitif dan pendapatan nasional secara berkelanjutan.
Sinergi strategis: Sektor jasa sebagai penopang manufaktur
Dalam ekonomi modern, sektor jasa dan manufaktur saling membutuhkan dan harus tumbuh secara berdampingan dalam sebuah ekosistem yang terintegrasi. Kemajuan industri manufaktur sulit tercapai tanpa dukungan sektor jasa yang kompeten.
Berikut adalah beberapa bidang jasa yang menjadi “mesin penggerak” di balik layar manufaktur:
- Riset dan Desain (R&D): Menciptakan inovasi produk agar manufaktur nasional tidak hanya menjadi tukang rakit, tetapi pemegang hak kekayaan intelektual.
- Logistik dan Rantai Pasok: Memastikan distribusi barang berjalan efisien, cepat, dan dengan biaya yang kompetitif.
- Pemasaran dan Jasa Profesional: Membantu produk dalam negeri merambah pasar internasional melalui strategi branding dan layanan konsultasi bisnis yang handal.
Ketika manufaktur maju, sektor jasa pendukungnya akan ikut tumbuh. Sebaliknya, jasa yang efisien akan membuat biaya produksi manufaktur menjadi lebih murah dan kompetitif di kancah global.
Modernisasi dan peluang ekspor jasa profesional
Di masa depan, arah baru ekonomi Indonesia akan sangat dipengaruhi oleh tiga pilar jasa modern: Digital Services, Financial Services, dan Professional Services. Salah satu konsep menarik yang diangkat adalah dukungan terhadap mobilitas profesional yang kini dikenal dengan kampanye #KaburAjaDulu, namun dalam konteks yang positif.
Konsep ini merujuk pada “Export Skill” profesional bernilai tinggi. Indonesia tidak lagi hanya mengirimkan tenaga kerja kasar ke luar negeri, melainkan mengekspor keahlian para profesional kita. Beberapa sektor unggulan yang potensial meliputi:
- Teknologi Informasi (IT): Pengembang perangkat lunak dan ahli keamanan siber lokal yang bekerja untuk proyek-proyek internasional.
- Kesehatan: Tenaga medis profesional yang mampu memberikan layanan standar internasional.
- Riset dan Ilmu Pengetahuan: Peneliti Indonesia yang berkontribusi dalam proyek inovasi global.
Ekspor jasa ini memberikan keuntungan ganda: devisa masuk ke dalam negeri, sementara para profesional tersebut mendapatkan pengalaman dan jejaring global yang nantinya akan sangat berguna bagi penguatan ekosistem di tanah air.
BACA JUGA: Jenis Usaha yang Cocok di Era Sekarang Menurut Arsjad Rasjid
Kesimpulan dari pandangan Arsjad Rasjid adalah perlunya keberanian untuk berinvestasi pada manusia dan menciptakan sinergi antar-sektor. Dengan memperkuat sektor jasa dari sisi formalitas, kualitas SDM, serta integrasi dengan industri manufaktur, Indonesia tidak hanya akan mampu bertahan dari guncangan ekonomi global, tetapi justru menjadi pemimpin baru dalam ekonomi berbasis jasa di kawasan Asia.














