Sering haus validasi artinya ada aspek dalam diri kita yang mengalami ketidakseimbangan. Namun, ketergantungan akan pengakuan dari orang lain juga dapat berdampak negatif bagi kehidupan seseorang.
Penting bagi kita melakukan evaluasi terhadap diri sendiri, untuk mengenali penyebab mengapa kita membutuhkan pengakuan eksternal secara terus menerus. Dengan demikian, dapat menentukan langkah-langkah untuk mengatasinya.
Ketika seseorang haus validasi artinya perlu mencari akar permasalahan yang mungkin berhubungan dengan pengalaman masa kecil atau kejadian di masa lalu. Yuk lebih memahami diri sendiri dan menemukan cara untuk mengelola rasa butuh akan pengakuan orang lain, sehingga dapat menumbuhkan self compassion untuk jangka panjang.
Daftar Isi
Haus validasi artinya ada tendensi tertentu terhadap pengakuan/pujian
Mengenali tanda-tanda pribadi yang haus validasi
Strategi untuk mengatasi ketergantungan pada validasi eksternal
1. Eksplorasi pola asuh dan pengalaman yang dialami di masa kecil
2. Lakukan self care untuk merawat diri
3. Berlatih mengatakan atau menerima kata ‘TIDAK’
4. Bangun support system yang positif
Haus validasi artinya ada tendensi tertentu terhadap pengakuan/pujian
Perasaan haus akan pengakuan eksternal ternyata bisa berakar dari pengalaman masa kecil. Hal ini dapat terjadi karena seseorang tumbuh tanpa cukup pengakuan atau bahkan menerima terlalu banyak pujian.
Saat kurang mendapatkan validasi, seorang anak bisa tumbuh dengan trust issue atau kesulitan untuk percaya pada orang lain. Ia juga mengembangkan perasaan mudah cemas atau takut ditolak.
Sedangkan mereka yang tumbuh dengan terlalu banyak pujian, dapat mengembangkan ketergantungan atas validasi orang lain saat tumbuh dewasa. Ia memiliki perasaan berhak untuk diakui kontribusinya oleh orang lain secara terus menerus, di mana hal ini juga tidak baik untuk keseimbangan mental.
Mengenali tanda-tanda pribadi yang haus validasi
Ada beberapa cara mengidentifikasi adanya perasaan haus pengakuan orang lain dalam diri seseorang. Beberapa di antaranya lewat beberapa kecenderungan ini.
- Sulit membuat keputusan sendiri: Saat diri kita sering meragukan keputusan yang diambil dan selalu membutuhkan masukan orang lain, ini dapat mengindikasikan rasa kurang percaya diri. Hal ini dapat terjadi karena kurangnya apresiasi atau pengakuan di masa lalu.
- Sering merasa bersalah untuk menetapkan batasan: Rasa bersalah yang muncul ketika menetapkan batasan untuk diri sendiri juga dapat dilatarbelakangi kurangnya pengakuan di masa kecil. Namun perlu disadari bahwa menetapkan batasan di berbagai aspek kehidupan juga penting untuk menjaga kesehatan fisik dan mental.
- Merasa tertekan saat tidak menjadi pusat perhatian: Ketika seseorang mudah bersedih saat kontribusinya tidak diakui atau tidak dilihat, hal ini bisa mengindikasikan kurangnya kepercayaan diri. Hal tersebut bisa tumbuh dari pengalaman masa lalu di mana seseorang menerima terlalu banyak pujian atau justru sering dibandingkan dengan orang lain.
- Berlebihan dalam membandingkan diri sendiri dengan orang lain: Perasaan haus validasi seringkali membuat seseorang melakukan kompetisi yang tidak perlu. Salah satunya adalah dengan terlalu membandingkan kehidupan diri sendiri dengan orang lain. Sadari bahwa dalam hidup ini, semua orang unik dengan potensi dirinya masing-masing.
Strategi untuk mengatasi ketergantungan pada validasi eksternal
Mengalami ketergantungan pada validasi eksternal dapat sangat melelahkan dan menguras energi kita. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengelola dan mengatasi permasalahan tersebut.
1. Eksplorasi pola asuh dan pengalaman yang dialami di masa kecil
Ketika dewasa, tidak ada salahnya melakukan perenungan kehidupan tentang bagaimana pengalaman masa kecil mempengaruhi kita saat ini. Pengabaian atau pemberian perhatian yang kurang sehat tentunya berkontribusi dalam pembentukan karakter dan pribadi kita hari ini.
Berikan afirmasi positif bahwa kita menerima pengalaman tersebut sebagai pengalaman yang manusiawi dan saat ini akan mulai memperbaikinya sebagai bagian dari pengembangan diri ke arah yang lebih baik.
2. Lakukan self care untuk merawat diri
Ada beberapa upaya self care yang dapat dilakukan untuk mengelola rasa haus akan validasi. Di antaranya dengan menulis jurnal, memulai hari dengan afirmasi positif atau melakukan meditasi dan yoga.
Aktivitas tersebut juga akan memberi kesempatan pada diri kita dalam melakukan dialog pada diri sendiri. Serta menggantikan pikiran negatif yang ada dengan afirmasi positif dan mengasah kepercayaan diri.
3. Berlatih mengatakan atau menerima kata ‘TIDAK’
Cara ini dapat membantu kita mengatasi rasa sedih, takut atau tidak nyaman terhadap penolakan. Mulai dari diri sendiri berlatih mengatakan ‘tidak’ pada hal-hal yang tidak sesuai. Ini membuat kita lebih memahami mengapa ada kalanya tidak semua ekspektasi dapat terpenuhi, atau bahwa kita tidak perlu selalu memenuhi ekspektasi orang lain.
4. Bangun support system yang positif
Mulai sadari bagaimana sirkel pertemanan, keluarga atau pekerjaan yang dimiliki. Pertimbangkan apakah jaringan tersebut menunjang atau malah menguras energi dan emosi kita.
Lebih bijaksana bila kita dapat membangun mutual atau sistem dukungan yang lebih sehat dengan saling memberikan feedback positif. Dengan demikian, kita dapat saling memberikan apresiasi dan masukan yang baik dan seimbang.
BACA JUGA: Mencari Validasi Adalah Hal yang Sebaiknya Tak Dilakukan, Arsjad: Fokus Pada Dirimu Sendiri
Bila tips di atas sudah dilakukan dan masih menimbulkan rasa tidak nyaman, jangan ragu untuk berkonsultasi pada tenaga profesional terlatih. Dengan demikian, akan lebih efektif dalam menganalisis sumber masalah serta menemukan metode efektif untuk membangun kepercayaan diri yang kuat dan self compassion yang lebih sehat.














