Bagaimana cara mengatasi kecemasan berlebihan di tengah maraknya pemberitaan yang penuh ketegangan? Setiap hari kita dihadapkan pada realita ekonomi politik global dan konflik internasional yang tidak kunjung reda, ditambah isu domestik silih berganti.
Arsjad Rasjid memahami bagaimana hal ini dapat memberikan dampak psikologis, seperti perasaan cemas dan overwhelmed. Hal tersebut sangat manusiawi dan dirasakan oleh banyak orang di berbagai negara, hingga lintas generasi.
Dalam bahasan kali ini, Arsjad Rasjid membahas cara mengatasi kecemasan berlebihan dan pentingnya menyikapi banjir informasi yang kita terima dengan lebih mindful.
Daftar Isi
Cara mengatasi kecemasan berlebihan dengan fokus pada apa yang bisa dikendalikan
Bangun filter, pilih waktu, dan cek fakta
1. Cek fakta dan hindari menyebarkan hoaks
2. Jangan mengonsumsi konten medsos saat sedang lelah
3. Hindari mindless doomscrolling
Bagaimana merawat energi di tengah realitas yang tidak ideal?
Cara mengatasi kecemasan berlebihan dengan fokus pada apa yang bisa dikendalikan
Keberadaan media sosial saat ini, semakin mempercepat penyebaran informasi dan mengamplifikasinya, sehingga menimbulkan perasaan ‘overwhelmed’ atau kewalahan pada penerima kabar tersebut. Belum lagi sejumlah konten yang sering tidak disertai konteks lengkap, dapat menyebabkan kebingungan maupun kekhawatiran.
Di sisi lain, kita tidak selalu dalam kondisi yang prima untuk dapat menerima informasi tersebut. Mungkin sedang kelelahan secara fisik maupun pikiran, sedang berduka atau sedang dalam kondisi ekonomi yang kurang baik. Tentunya hal tersebut juga mempengaruhi kemampuan kita dalam merespon.
Konsumsi konten tanpa adanya filter seperti cek fakta, akan membuat reaksi kita lebih dominan daripada refleksi. Dalam hal ini, ada satu nasihat penting dari Arsjad Rasjid, “Kita nggak harus mendengarkan semua suara. Beberapa bisa kita skip seperti iklan di YouTube.”
Dengan mengelola respon terhadap berita atau konten yang bermunculan, kita dapat tetap menghadapi realita yang ada. Kondisi saat ini memang tak terhindarkan dan di luar kendali kita. Namun tidak semua perlu dipikirkan maupun ditanggapi, fokus saja pada apa yang bisa dikontrol, yaitu respon kita.
Bangun filter, pilih waktu, dan cek fakta
Membangun filter pribadi di tengah banjir informasi saat ini merupakan hal yang penting. Berikut ini adalah beberapa metode filter yang dapat menyelamatkan mental, waktu dan ketenangan pikiran kita.
1. Cek fakta dan hindari menyebarkan hoaks
Saat menerima informasi atau berita, hindari menelan mentah-mentah atau langsung memberikan reaksi. Biasakan untuk melakukan cek fakta dengan:
- Membaca lebih dari satu sumber informasi
- Memeriksa konteks dan fakta yang sebenarnya
Hal ini akan mencegah terjadinya misinformasi yang dapat mempengaruhi kondisi pikiran kita. Selain itu, hindari melakukan forward atau menyebarkan informasi tersebut bila memang belum jelas kebenarannya. Sehingga tidak menyebabkan kegaduhan dan kecemasan bagi pihak lainnya.
2. Jangan mengonsumsi konten medsos saat sedang lelah
Perhatikan kondisi fisik dan mental kita, hindari membaca berita yang membuat kewalahan bila sedang lelah, kurang tidur, emosional atau kurang bisa berpikir jernih. Sebab dalam kondisi tersebut, kita akan sulit membedakan antara bereaksi dengan merespon.
Tidak masalah jika menghindari media sosial atau membaca berita untuk sementara waktu, demi memulihkan dan memprioritaskan kondisi mental. Konsumsi berita dan konten media sosial merupakan keputusan personal, bukan sebuah kewajiban.
Sebaliknya, manfaatkan waktu ini untuk melakukan refleksi seperti journaling, meditasi atau latihan nafas. Metode ini dapat membantu mengurangi intensitas kecemasan dan menuangkan kegelisahan kita pada media yang lebih tepat.
3. Hindari mindless doomscrolling
Doomscrolling adalah aktivitas scroll konten media sosial yang berlebihan dan tak kenal waktu. Padahal, tidak semua berita perlu dikonsumsi setiap saat. Batasi konsumsi informasi dengan menetapkan sejumlah durasi tertentu secara bertahap. Misalnya dari 8 jam per hari, kemudian turun menjadi 5 jam per hari, 3 jam per hari dan seterusnya.
Alihkan waktu kita untuk melakukan hal produktif lainnya. Seperti berolahraga, membaca buku, menghabiskan waktu di alam atau melakukan interaksi sosial langsung dengan teman dan keluarga.
Bagaimana merawat energi di tengah realitas yang tidak ideal?
Kita tidak memiliki cukup energi untuk memikirkan semuanya. Juga tidak memiliki kendali untuk mengubahnya. Dengan mengakui bahwa ada faktor di luar kendali yang dapat mempengaruhi kondisi kita, akan lebih mudah untuk menentukan sikap dan respon akan situasi tersebut.
Dalam hal ini, kita tidak sendirian dan overwhelmed akan situasi saat ini merupakan hal yang manusiawi. Namun, kita masih memiliki kendali akan respon kita sendiri terhadap kondisi sekarang dan banyaknya kabar yang melelahkan mental.
Terapkan batas dan filter pribadi, demi memberi kesempatan diri untuk tetap rasional, optimis, tenang dan bertumbuh.
BACA JUGA: 5 Cara Mengatasi Burnout Agar Produktif dan Sehat Secara Mental
Menjaga pikiran tidak kacau di tengah kondisi chaos saat ini bukanlah sikap menutup mata maupun egois. Melainkan upaya untuk tetap survive secara fisik dan mental dan menjaga energi dari kondisi negatif yang melemahkan.














