Self reward seringkali dijadikan bentuk apresiasi terhadap diri sendiri setelah berhasil menyelesaikan tugas, achievement atau melewati tantangan yang sulit. Tindakan ini bukan sekadar pemanjaan diri, melainkan sebuah cara untuk mengisi kembali energi mental dan meningkatkan motivasi untuk langkah selanjutnya.
Namun, esensi dari menghadiahi diri sendiri sering kali disalahartikan. Agar tetap positif, self reward memerlukan batasan yang jelas agar tidak berubah menjadi perilaku impulsif atau pemborosan.
Arsjad Rasjid juga pernah membahas tentang self reward dan cara menerapkannya dengan sehat dan efektif. Mari kita simak penjelasannya agar dapat memberikan apresiasi diri sendiri dengan lebih mindful dan seimbang.
Daftar Isi
Mengapa self reward artinya sering dikaitkan dengan makanan
Efek samping menganggap makanan sebagai reward
Alternatif reward yang lebih sehat
Mengapa self reward artinya sering dikaitkan dengan makanan
Melansir dari HuffingtonPost, makanan termasuk sebagai bagian dari budaya “little treat” atau hadiah kecil. Metode ini populer karena relatif mudah, murah dan menyenangkan. Di samping itu, budaya ini terbentuk dari ajaran sejak kecil bahwa makanan bisa menjadi reward.
Contohnya, ketika kita berperilaku baik atau berhasil melakukan tugas tertentu saat masih kecil, orang tua akan memberikan hadiah berupa es krim atau makanan yang disukai.
Melainie Rogers, R.D.N., seorang pakar dari BALANCE Eating Disorder Treatment Center, menjelaskan bagaimana makanan dapat memicu respons relaksasi yang kuat. Oleh karena itu, ia menjadi opsi bagi banyak orang untuk merasa lebih baik setelah menjalani hari yang cukup menantang dan melelahkan.
Efek samping menganggap makanan sebagai reward
Meskipun demikian, menjadikan makanan sebagai imbalan atau reward pada diri sendiri juga dapat menimbulkan mindset yang kurang sehat bila tidak dikelola dengan baik. Terapis gangguan makan, Cherie Miller, menyatakan hubungan antara makanan dan reward berakar dari konsep pembatasan.
Menjadikan makanan sebagai hadiah dapat membentuk label “baik” atau “buruk” pada makanan tersebut dan berdampak pada timbulnya gangguan makan emosional. Hal ini disampaikan Amy Girimonti, spesialis gangguan makan yang mengungkapkan bahwa memberi stigma pada makanan dapat mempengaruhi pola makan dan hubungan dengan jenis asupan tertentu.
Saat makanan harus “diperoleh”, individu cenderung menahan diri tidak makan hingga mencapai target tertentu. Ternyata perlakuan ini dapat berpengaruh pada asupan yang didapat, yaitu menjadi kekurangan atau kelebihan makan.
Contohnya, mengonsumsi makanan manis atau makanan yang disukai dalam jumlah besar sebagai perayaan karena telah mencapai sesuatu atau sebagai comfort food untuk meredakan stres. Seperti yang disampaikan Mindful Eating Study (2024) oleh Health Collaborative Center (HCC) pada 1.158 responden dari 20 provinsi seluruh Indonesia, 47% atau 5 dari 10 orang Indonesia terindikasi sebagai emotional eater (makan dengan emosional)
Diperlukan keterampilan dalam menerapkan self reward yang melibatkan perilaku konsumsi, salah satunya adalah makan. Termasuk dalam aspek memperhatikan kandungan gizi, porsi dan asupan yang diperoleh dari apa yang kita makan, sehingga menghadiahi diri sendiri dengan makanan dapat memberikan manfaat yang seimbang.
Psikolog & Co-founder Rumah Psikologi Tiga Generasi, Saskhya Aulia Prima M.Psi, menyebutkan bagaimana self reward merupakan kemampuan yang perlu dilatih. “Menerapkan momen pengingat seperti jam ngemil dapat menjadi salah satu cara untuk melatih keterampilan self reward,” ujarnya.
Praktik makan yang lebih mindful juga dapat membantu kita lebih terkontrol dalam mengonsumsi makanan. Yaitu makan dengan fokus dan sadar sehingga kita dapat menikmati sajian di depan mata secara penuh tanpa distraksi lain (bekerja, menonton gadget atau ngobrol).
Alternatif reward yang lebih sehat
Menurut Arsjad Rasjid, memberikan self reward pada diri sendiri bukanlah bentuk keegoisan selama kita tidak memaknainya sebagai perilaku konsumtif yang berlebihan. Selain dengan makanan, beberapa alternatif untuk hadiah pada diri sendiri bisa berupa:
- Melakukan me time, seperti melakukan hobi, mengambil cuti atau pergi berlibur
- Membeli barang yang diinginkan atau menunjang perkembangan diri, seperti membeli gadget yang diharapkan untuk kebutuhan pribadi maupun produktivitas lainnya.
- Melakukan perawatan diri, seperti pijat untuk memelihara kesehatan dan relaksasi.
Memberikan self reward pada diri sendiri tidak harus mewah atau mahal. Yang lebih utama adalah dapat berdampak pada motivasi dan produktivitas diri secara berkelanjutan.
BACA JUGA: Apa Arti Self Reward? Inilah 3 Tips dari Arsjad Rasjid agar Tidak Impulsif
Menerapkan alternatif self reward artinya membuka ruang gerak untuk menghargai diri sendiri secara lebih dinamis, tanpa perlu bergantung pada makanan sebagai satu-satunya apresiasi bagi diri sendiri.













