Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini diperkirakan bakal aman-aman saja, tetapi tidak luar biasa. Pak Arsjad Rasjid menyebutkan bahwa angka pertumbuhan kita kemungkinan besar akan stabil di kisaran 5%. Mengapa tidak bisa meroket lebih tinggi dari itu? Jawabannya ada pada situasi makro ekonomi dan sikap pasar yang saat ini cenderung memilih bermain aman.

Ada tiga alasan utama mengapa angka 5% ini menjadi zona nyaman yang sulit ditembus untuk sementara waktu. Alasan pertama adalah masyarakat dan dunia usaha yang sengaja menahan diri buat belanja. Mereka lebih memilih menunggu sampai situasi global menjadi lebih pasti sebelum menggelontorkan modal atau konsumsi besar-besaran.

Strategi mendongkrak pertumbuhan ekonomi agar bisa melompat di atas 5% menuntut kita untuk memahami peta ketidakpastian global yang sedang terjadi. Guna melihat faktor-faktor internasional apa saja yang menahan laju pasar kita dan bagaimana cara mengubahnya menjadi peluang emas, mari kita bahas tantangan geopolitik pada poin di bawah ini.

 

1. Sikap Hati-Hati Masyarakat dan Dunia Usaha dalam Belanja

Alasan pertama yang menahan percepatan ekonomi kita adalah perubahan perilaku dari konsumen dan pelaku bisnis itu sendiri. Saat ini, masyarakat dan dunia usaha memilih untuk bersikap hati-hati. Mereka secara sadar menahan diri buat belanja atau melakukan konsumsi serta investasi dalam skala besar.

Sikap menahan diri ini dilakukan sampai situasi global dirasa sudah lebih pasti. Karena konsumsi domestik merupakan salah satu motor penggerak utama PDB Indonesia, keputusan pasar untuk bermain aman ini otomatis membuat perputaran uang menjadi lebih lambat, sehingga pertumbuhan kita tertahan di kisaran angka 5%.

2. Konflik Geopolitik Dunia yang Semakin Memanas

Tantangan besar kedua yang membayangi ekonomi kita datang dari faktor eksternal, yaitu situasi geopolitik dunia yang semakin memanas. Ketegangan antarnegara di berbagai belahan dunia melahirkan efek domino yang langsung memukul stabilitas ekonomi internasional, termasuk Indonesia.

Arsjad Rasjid menilai kondisi geopolitik yang memanas ini secara otomatis memengaruhi dua hal krusial, yaitu penurunan permintaan global dan terganggunya jalur rantai pasok (supply chain). Ketika rantai pasok tersumbat, biaya logistik membengkak dan distribusi bahan baku menjadi terhambat, yang pada akhirnya menekan produktivitas industri dalam negeri.

3. Perundingan Dagang Internasional yang Masih Berlangsung

Faktor ketiga yang melengkapi tantangan ekonomi ini adalah proses perundingan dagang internasional yang sampai sekarang masih terus berlangsung. Banyak kerja sama ekonomi antarnegara yang belum mencapai kesepakatan final, sehingga menciptakan situasi yang menggantung.

Kondisi inilah yang pada akhirnya melahirkan banyak sekali uncertainty atau ketidakpastian di mata para investor. Selama aturan main perdagangan internasional belum ketok palu, para pelaku usaha global akan cenderung menahan modalnya untuk masuk ke pasar berkembang seperti Indonesia.

4. Mengubah Banyak Ketidakpastian Menjadi Akses Pasar yang Lebih Baik

Walaupun dunia sedang dipenuhi oleh uncertainty, Arsjad Rasjid menegaskan bahwa dirinya tetap percaya Indonesia bisa mencapai growth atau pertumbuhan yang lebih tinggi. Kuncinya adalah bagaimana kita bisa melihat celah dan mengubah banyak ketidakpastian tersebut justru menjadi peluang untuk membuka akses pasar yang lebih baik.

Ketika jalur perdagangan lama terganggu akibat konflik, negara-negara luar akan mencari alternatif mitra dagang baru yang lebih aman. Indonesia harus mengambil kesempatan ini untuk menawarkan produk-produk unggulannya. Beberapa strategi yang bisa kita lakukan antara lain:

  • Mempercepat diplomasi ekonomi untuk menyelesaikan perundingan dagang secara mandiri.
  • Mempermudah regulasi ekspor bagi produk lokal agar bisa bergerak lincah mengisi kekosongan pasar dunia.
  • Memperkuat kolaborasi gotong royong antara pemerintah dan swasta demi memanfaatkan momentum ketika negara lain sedang menahan diri.

BACA JUGA: Berinovasi Adalah Cara Menang di Kompetisi Bisnis, Ini 5 Strategi Penerapannya

Dengan kesiapan ekosistem dalam negeri, peluang akses pasar baru ini bisa kita eksekusi dengan matang, dan target pertumbuhan ekonomi di atas 5% pun bisa kita wujudkan bersama.

 

You may also like

More in Inspirasi