News

Jejak Langkah Arsjad Rasjid Mengembangkan Multibisnis Industri Energi

Figur pengusaha besar M. Arsjad Rasjid P.M santer diperbincangkan di kalangan pengusaha nasional dan global. Namanya kerap menghiasi kanal-kanal berita ekonomi di media nasional dan asing. Media mengulas tangan dinginnya yang sukses mengembangkan berbagai perusahaan, khususnya di bidang energi yang menjadi motor PT Indika Energy Tbk.

Berperawakan sedang nan bersahaja, pria 51 tahun ini sedang menjadi sorotan karena dicalonkan oleh kolega dan kalangan dunia usaha untuk menjadi calon Ketua Umum Kamar Dagang Indonesia (Kadin) periode 2021-2026.

Terlahir dengan nama Mohammad Arsjad Rasjid Prabu Mangkuningrat, pria berdarah Palembang-Sunda-Tionghoa ini dikenal sebagai pengusaha sukses multibisnis dalam industri energi dan turunannya. Bidang usaha yang ia garap melintasi berbagai bidang keahlian dari berbagai karyawan yang multitalenta. Salah satu bidang usahanya energi, menjadi zona andalan yang paling banyak berperan mengantarkan kejayaan perusahaan holding PT Indika Energy Tbk.

Lahir di Jakarta pada 16 Maret 1970, Arsjad adalah anak dari seorang purnawirawan TNI bernama H.M.N. Rasjid. Ia tak mengikuti jejak sang ayah yang mengabdi di dunia militer. Nuraninya terketuk untuk memilih jalan nasionalisme lain lewat pengembangan usaha mengelola sumber daya alam negara.

Setelah memperoleh gelar Bachelor of Science dari Pepperdine University, California, Amerika Serikat pada 199 dan juga menyelesaikan studi Computer Engineering di University of Southern California, ia pulang ke Indonesia untuk mulai berbisnis.

Arsjad kemudian memutuskan bergabung ke PT Indika Inti Mandiri (Indika Group) pada 1996, tahun di mana perusahaan itu berdiri. Dari Indika, Arsjad belajar banyak tentang pemanfaatan energi, khususnya pertambangan batubara dan energi pendukungnya.

Bersama Agus Lasmono dan Wishnu Wardhana, teman sealumninya dari Pepperdine University, Arsjad ikut membidani lahirnya PT Indika Energy pada 2000. Adapun Indika Group adalah perusahaan yang dirintis temannya, Agus Lasmono yang merupakan salah satu anak konglomerat terbesar di era Orde Baru, mendiang Sudwikatmono.

Kepiawaian Arsjad dalam berbisnis rupanya menorehkan catatan gemilang di perusahaannya. Empat tahun setelah memulai karier di Indika, Arsjad didapuk menjadi komisaris utama perusahaan. Keberhasilan Indika banyak bergantung pada ide-ide dan kreativitas Arsjad dan tim kerjanya yang membuat kariernya semakin moncer dan Indika Energy menjadi perusahaan energi yang patut diperhitungkan.

Di masa-masa menjabat CEO Indika Energy pada 2005 inilah ia mulai menciptakan berbagai gebrakan yang membuat kalangan pengusaha terpukau. Salah satu ide yang menjadi grand strategynya adalah mengakuisisi beragam sektor perusahaan sebagai pelaksana ahli di bidang pertambangan. Sebut saja PT Tripatra Engineers and Constructors, PT Petrosea Tbk, dan PT Mitrabahtera Segara Sejati. Di luar itu, masih banyak lagi anak-anak usaha yang diakuisisi dan semuanya berada dalam naungan Indika Energy.

Arsjad mengungkapkan, strategi yang berfokus mengakuisisi perusahaan yang ia lakukan adalah untuk meningkatkan nilai aset. Ia meyakini dengan mengakuisisi sejumlah perusahaan yang bergerak di berbagai bidang dan mengintegrasikannya, bakal menciptakan nilai tambah bagi perusahaan tersebut.

Sejak awal ia dan tim telah berfokus bahwa core bisnis Indika adalah pertambangan dan energi. Jadi, untuk menghasilkan revenue bagi pengembangan perusahaan tidak mungkin semua dimulai dari nol dengan mendirikan anak-anak perusahaan. “Karena itu, akuisisi merupakan pilihan supaya segala yang tadinya dipandang sebagai biaya bisa sekaligus memiliki pendapatan,” katanya kepada wartawan Law and Justice.

Berkat ide briliannya selama lima tahun menjadi CEO, Arsjad mampu mengembangkan nilai aset industri energi batu bara menjadi berlipat ganda, dari 150 juta dollar AS menjadi senilai 2,5 miliar dollar AS (sekitar Rp 22,5 triliun). Di bawah payung PT Indika Energy Tbk, Arsjad berhasil membesarkan aset perusahaan pada 2020 menjadi USD 3,6 miliar atau hampir Rp 50 triliun.

Pengalamannya mendongkrak penghasilan perusahaan dengan metode akuisisi bukan tanpa tantangan. Ia menceritakan tantangan terbesarnya adalah bagaimana mempertahankan sumber daya manusia yang dimiliki perusahaan agar tetap menjadi pendukung investasi, bukan beban biaya bagi perusahaan. Paradigma ini akan mempengaruhi cara berpikir leader perusahaan terhadap karyawan yang dimiliki.

Arsjad menahkodai sekitar 10.000 lebih karyawan di dalam Indika Energy Group dan memimpin perusahaan melakukan turnaround atas kinerja perusahaan yang terdampak penurunan harga batubara pada periode 2013-2016, hingga akhirnya kondisi perusahaan berbalik positif. Arsjad juga memimpin PT Indika Energy Tbk untuk melakukan diversifikasi usaha dengan berinvestasi di sektor non-batubara, seperti pertambangan emas, teknologi digital, hingga solusi energi terbarukan.

Arsjad mengungkapkan, jika karyawan dipandang sebagai beban, perusahaan pasti akan mencari celah untuk selalu memotong gajinya. Karenanya, seorang pemimpin harus mengubah pola pikir itu dan beranjak memberdayakan mereka dengan mendorongnya berkerasi agar merasa memiliki perusahaan. Salah satu langkahnya adalah dengan memberikan peluang menjadi pemimpin dan menciptakan regenerasi yang kontinyu.

Implementasi dari paradigma mempertahankan SDM misalnya menyatukan kelompok tua dan muda untuk mau berkomitmen membangun industri Indika. Di sinilah regenerasi muncul dengan pembinaan entrepreneurship pada kelompok muda. “Yang muda haruslah diberi kepercayaan untuk memimpin. Yang tua, ya harus menjadi anggotanya,” tegasnya.

Ide Arsjad di tingkat manajemen ini memang ditujukan untuk melakukan transformasi manajemen. Namun bukan berarti itu menunjukkan Indika adalah perusahaan yang tidak performing sehingga membutuhkan perubahan besar untuk eksis, melainkan cara ini diartikan secara continuous improvement. “Artinya, kami mencanangkan komitmen untuk tidak terlena, puas diri, tetapi sama-sama fokus membangun industri ini,” ucapnya.

Pemikiran Arsjad di atas koheren dengan langkahnya melakukan efisiensi perusahaan tanpa melalui limpahan sales yang jor-joran, namun ia melakukannya dengan berbagai parameter, seperti memotong pemborosan dan biaya yang tidak perlu, seraya tetap menjaga sumber-sumber pemasukan agar tetap berjalan lancar dan berkelanjutan.

Dalam acara peringatan 45 tahun kiprah Indika Group dan 10 tahun Indika Energy di pasar modal 2018 lalu, Arsjad mengungkapkan salah satu langkah efisiensi adalah memangkas jumlah SDM dengan golden shake hand atau kesepakatan pensiun dini terhadap 1.000 SDM dari total 10.000 SDM yang dimiliki Indika Group.

Dalam konteks efisiensi ini, role model yang dilakukan pihaknya adalah menyusutkan jumlah Board of Directors (BOD) di Indikia Energy dari sebelumnya tujuh orang menjadi tiga orang saja. Dengan demikian, karyawan akan melihat bahwa penghematan dimulai dari level atas.
“Pemotongan SDM banyak dikonsentrasikan di bagian atas, sehingga dampaknya terhadap biaya cukup signifikan. Penghematan biaya rutin kami bisa mencapai 40 persen,” katanya. Berkat jurus usahanya ini, pada 2017 Indika berhasil meraih laba bersih setelah pajak sebesar USD 335 juta.

Pengabdian Arsjad di Indika Energy telah melampaui zona dan zaman, selain sebagai CEO Indika Grup, Arsjad juga pernah menjabat sebagai anggota dewan komisaris dan direksi di berbagai perusahaan seperti PT Kideco Jaya Agung–perusahaan batubara, PT Tripatra Engineers & Contractors– perusahaan EPC (engineering procurement and construction) minyak dan gas, PT Petrosea Tbk–kontraktor pertambangan, dan PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk–logistik laut.

Di luar sektor energi, Arsjad pernah menjabat sebagai anggota dewan komisaris di PT Net Mediatama Televisi (NET.), salah satu unit usaha Indika di bidang media. Kemudian ia juga menjabat sebagai anggota dewan komisaris di PT Asuransi Cakrawala Proteksi.

Ada lima values, yang ia bangun untuk menjadi panduan manajemen dan karyawan Indika Energy Group, yakni integrity, achievement, unity in diversity, teamwork, dan social responsibility. “Kami membuat kultur agar perusahaan berjalan dalam koridor nilai-nilai yang diinginkan,” tutur Wakil Ketua Kadin ini.

Di luar Indika Energy, Arsjad tercatat pernah menjadi penasihat hingga komisaris di berbagai perusahaan ternama seperti Alpha JWC Ventures hingga Grab Teknologi Indonesia. Pada Januari lalu, Arsjad ditunjuk sebagai Ketua Dewan Penyantun Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) oleh Menteri BUMN Erick Thohir. Pada periode 2016-2020, Arsjad pernah dipercaya menjadi staf ahli Kapolri untuk bidang ekonomi.

Di tengah kompetisi memperebutkan posisi Ketua Umum Kadin, Arsjad hingga kini masih aktif menjabat Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Pengembangan Pengusaha Nasional, yang fokus untuk mengakselerasi kewirausahaan nasional yang inklusif dan terarah, termasuk mengembangkan wirausaha sosial dan pemula.

Peraih Young Global Leader 2011 dari World Economic Forum (WEF) dan Best Executive di Indonesia pada 2010 dari Asiamoney ini juga aktif di kegiatan sosial. Antara lain Arsjad aktif sebagai Ketua Pembina Indika Foundation (Yayasan Indika Untuk Indonesia), Ketua Dewan Pengawas Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB), Dewan Penasihat Indorelawan, juga secara aktif mendukung berbagai inisiatif berdampak sosial, kewirausahaan sosial (social enterprise), dan filantropi.

Indika banyak membantu kegiatan filantropi yang diadakan oleh berbagai lembaga pelayanan sosial dan swadaya masyarakat. Indika Foundation, misalnya, membantu dan mendukung berbagai kegiatan pendidikan, pemberdayaan dan nilai-nilai toleransi kepada para anak muda yang ada di Indonesia.

Pada 2016, Arsjad mengikuti program Executive Education- International Directors Programme 2016 di INSEAD yang diselenggarakan di Singapura dan Fountainebleau, Perancis. Pada 2012, Arsjad menyelesaikan program Executive Education Global Leadership and Public Policy for the 21st Century di Harvard Kennedy School, Amerika Serikat, serta menyelesaikan program Insights Into Politics and Public Policy in Asia untuk Para Pemimpin Global di Lee Kuan Yew School of Public Policy, Singapura.

Di 2013 Arsjad menyelesaikan Executive Education on Impacting Investing di Said Business School, University of Oxford, Inggris. Pada 2014, Arsjad menyelesaikan program Executive Education on Leadership and Decision Making in the 21st Century di Jackson Institute for Global Affairs, Yale University, Amerika Serikat. (VED/BUR)

You may also like