Mindfulness merupakan bentuk kesadaran yang kita butuhkan di tengah ritme hidup yang makin cepat. Tak sedikit di antara kita yang merasa semakin mudah lelah, terdistraksi, atau mengalami fluktuasi emosi tanpa sempat memprosesnya.
Dalam situasi seperti ini, saran “coba mindfulness” sering terdengar klise. Banyak yang memaknainya sebagai meditasi, duduk bersila, memejamkan mata, dan diam tanpa bergerak.
Arsjad Rasjid menekankan bahwa mindfulness jauh lebih luas dari makna tersebut. Ini adalah tentang kesadaran dan perlu proses berlatih melalui kebiasaan kecil dalam kehidupan sehari-hari.
Mindfulness sebagai pengingat kesadaran dari hal sederhana
Arsjad Rasjid memaknai mindfulness secara sederhana: mindfulness = sadar. Di mana kita memiliki kemampuan untik menyadari apa yang terjadi dalam diri, lalu memilih respons yang paling bijak.
Mindfulness tidak selalu tentang ‘tampil tenang’. Melainkan kondisi di mana kita telah melatih otonomi kesadaran di tengah distraksi dan ritme hidup yang naik turun.
Satu pengingat penting yang perlu kita tanamkan adalah: kita tidak harus menunggu peristiwa besar untuk mulai punya awareness dan melatih mindfulness. Terkadang, situasi ini bisa kita raih dengan menikmati momen sederhana dengan sepenuh hati.
Memahami jenis mindfulness
Ada dua jenis kesadaran yang dimiliki manusia. Yang pertama adalah kesadaran pikiran, dan yang lainnya adalah kesadaran fisik. Kedua jenis kesadaran ini dapat kita pahami melalui penjelasan berikut.
1. Kesadaran Pikiran
Kesadaran pikiran adalah kemampuan kita menyadari dan mengenali saat emosi muncul—senang, sedih, marah, cemas, takut, atau perasaan lainnya. Dari kesadaran akan emosi tersebut, kita dapat menentukan reaksi yang bijak, bukan langsung bereaksi spontan.
2. Kesadaran Tubuh
Kesadaran tubuh ialah kemampuan mendengar kebutuhan fisik: kapan saatnya istirahat, kapan waktunya bergerak, bagaimana menjaga ritme kerja agar tetap sehat dan bugar. Bekerja, berolahraga, dan beristirahat dilakukan dengan sadar.
Idealnya, kesadaran atau mindfulness yang kita bangun berada “di tengah-tengah”: sadar akan pikiran kita, sekaligus sadar akan perilaku kita.
Mindfulness tidak hanya dalam bentuk meditasi
Miskonsepsi yang sering terjadi di masyarakat, bahwa mindfulness adalah urusan meditasi atau ritual. Arsjad Rasjid menjelaskan bahwa banyak sendi kehidupan kita membutuhkan mindfulness atau kesadaran yang baik.
Contohnya saat kita makan, bertindak, mengambil keputusan dalam membelanjakan uang, berkomunikasi atau bahkan saat melakukan hobi. Kesadaran membantu kita menjadi lebih ‘present’ atau ada untuk saat ini, menghayatinya, menikmatinya dan mensyukurinya.
Dengan kata lain, mindfulness bukan hanya tentang menutup mata dan latihan duduk diam, melainkan cara menghadirkan kesadaran dalam pilihan-pilihan harian dalam hidup kita.
Menerapkan kesadaran dalam kehidupan sehari-hari
Arsjad memberikan sebuah kalimat prinsip sederhana: Live in the present as it is. Artinya, hadirlah dalam kondisi saat ini, apa adanya.
Contoh, saat sedang di rumah, bosan dan tidak tahu mau melakukan apa. Kemudian memesan makanan online dari 3 restoran berbeda sekaligus. Ini merupakan bentuk kesadaran “kurang mindful” karena mendahulukan keputusan impulsif.
Bandingkan dengan kondisi di mana sebelum membeli, ajukan satu pertanyaan ke diri sendiri alih-alih langsung check out. “Pesan sebanyak ini, apakah habis? Apakah sehat untuk kondisi keuangan?”
Pertanyaan singkat ini sederhana, tetapi bila kita melatih diri melakukannya, dapat mengubah pola “autopilot” menjadi lebih sadar.
Kesadaran yang terlatih, meningkatkan kualitas hidup
Ketika kita mulai menerapkan konsep kesadaran secara konsisten dalam keseharian, ada beberapa manfaat yang bisa dirasakan:
- Meningkatkan kesehatan mental, karena terlatih menjaga otonomi kesadaran akan naik turunnya perasaan karena faktor lingkungan, kesehatan dan lainnya.
- Menyelaraskan kesehatan mental dengan kesehatan fisik, karena kesadaran adalah tentang memahami pikiran dan kondisi tubuh.
- Membantu kita belajar lebih menikmati hidup, karena pikiran kita terbiasa untuk ada di saat ini. Sehingga terhindar dari overthinking, atau gagal move on.
Meski demikian, melatih kesadaran bukannya menjanjikan hidup tanpa masalah. Melainkan membantu kita lebih mampu mengelola reaksi, menjaga energi, dan menjalani hari dengan lebih utuh.
Kita dapat memulai latihan mindfulnes dari hal kecil. Tanamkan perlunya jeda sebelum bereaksi, pertanyaan sebelum memutuskan, dan kebiasaan hadir sepenuhnya dalam momen yang sedang dijalani.
BACA JUGA: Kenapa Berasumsi Adalah Toxic Behavior? Ini 4 Cara Mengatasinya
Dengan menikmati sesuatu sepenuh hati, jiwa dan raga, dari situlah kesadaran bertumbuh. Meski perlahan, asalkan konsisten, ia akan semakin kuat dan nyata.













