Overstimulated artinya kondisi ketika otak menerima terlalu banyak rangsangan sekaligus. Tak hanya sensorik, tapi juga emosi, hingga mental. Kondisi tersebut akan membuat kita berada di situasi kurang fokus dan tenang saat memproses segala sesuatu. Sehingga berujung menjadi marah-marah mendadak walaupun sebenarnya pemicunya hal sederhana.

Fenomena overstimulated ini juga sempat disinggung Arsjad Rasjid dalam sebuah postingan Instagram. Ia mengilustrasikan bagaimana kemarahan yang muncul tiba-tiba sering kali bukan lantaran alasan yang sedang terjadi ketika itu, melainkan akumulasi kelelahan yang terjadi sebelumnya. Lalu kenapa hal semacam ini bisa terjadi?

Overstimulated artinya lebih dari sekedar emosi marah

Arsjad Rasjid mengilustrasikan situasi di mana kita sedang mencari kunci di tas, sementara teman mendesak karena khawatir ketinggalan kereta. Kemudian kita tidak sadar meluapkan emosi berlebihan. Setelahnya tentu kita sadar bahwa sebenarnya tidak bermaksud marah sedemikian rupa, melainkan situasi tersebut terjadi karena kapasitas otak untuk menangani rangsangan sudah overload.

Overstimulated artinya otak menerima terlalu banyak input sekaligus. Sehingga seseorang berpotensi sulit fokus, cepat tersinggung, hingga akhirnya mudah kehilangan kontrol emosinya. Pada titik tertentu kondisi ini bisa juga mengakibatkan produktivitas dan kualitas hidup turun jika tidak segera diantisipasi.

Sensory overload: Mekanisme dan dampaknya pada mental

Overstimulated sering kali berkaitan dengan apa yang disebut sensory overload atau kelebihan muatan sensorik. Dilansir dari Antaranews, sensory overload terjadi ketika jumlah input informasi sensorik melebihi kemampuan sistem saraf memprosesnya. Sehingga tubuh kemudian menafsirkannya sebagai ancaman dan memicu berbagai respon. Misalnya seperti gelisah, kewalahan, atau penarikan diri.

Menurut Psychology.org.au overstimulated bukanlah kondisi yang hanya dialami oleh mereka dengan gangguan tertentu, seperti penyandang ADHD, PTSD, atau autisme, tapi juga bisa terjadi kepada siapapun. Terutama ketika seseorang dihadapkan dengan situasi penuh tekanan dan rangsangan di lingkungan sehari-hari.

Tanda-tanda overstimulated di kehidupan sehari-hari

Beberapa tanda umum dari kondisi overstimulated termasuk:

  • Sulit berkonsentrasi dan fokus.
  • Perubahan suasana hati yang cepat, misalnya seperti mudah marah atau tersinggung.
  • Rasa seperti kewalahan dan tidak mampu mengatasi tuntutan lingkungan.
  • Sensasi yang tidak nyaman akibat rangsangan berlebih mulai dari suara, cahaya, hingga interaksi sosial.

Lantaran overstimulated mencakup input sensorik sekaligus emosi, maka reaksi marah mendadak bisa menjadi salah satu manifestasinya. Kembali lagi, wujud kemarahan ini tidak selalu menunjukkan niat buruk, tapi sering kali merupakan sinyal bahwa kapasitas mental seseorang sudah mencapai batasnya.

Tips yang bisa dilakukan ketika terlalu banyak rangsangan

Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan saat berada di kondisi terlalu banyak rangsangan yang berpotensi memunculkan kemarahan tidak terduga, di antaranya:

  • Mengurangi paparan suara, cahaya, atau kerumunan.
  • Berpindah ke lingkungan yang lebih tenang, atau pulang ke tempat yang memberikan rasa aman dan nyaman.
  • Mengatur waktu istirahat secara reguler, sehingga kita bisa seolah memberi ruang sistem saraf untuk memproses input yang sudah masuk.

Kondisi overstimulated kadang terjadi di situasi yang tidak terduga. Oleh karenanya langkah antisipasi cepat akan membuat kita bisa lebih meredam hal-hal kurang menyenangkan yang akan terjadi.

BACA JUGA: Mindfulness Tidak Selalu Tentang Meditasi, tapi Latihan Kesadaran Tubuh dan Pikiran

Overstimulated artinya bukan sekedar istilah populer saja, melainkan realitas psikologis yang relevan di era sekarang ini. Di mana informasi dan tekanan sosial semakin tinggi. Memahami tanda-tandanya dapat membantu kita memberi ruang bagi pikiran untuk beristirahat, agar kesehatan mental tetap terjaga di tengah ritme hidup yang semakin padat.

You may also like

More in News