Beberapa tahun terakhir, ekspor keterampilan menjadi salah satu inisiatif yang sering disampaikan Arsjad Rasjid. Hal ini berangkat dari kondisi lapangan, di mana setiap tahun, jutaan anak muda Indonesia memasuki usia kerja. Namun, kesiapan tenaga kerja tidak selalu beriringan dengan kesiapan pasar untuk menyerap mereka.

Perubahan industri yang begitu cepat, menggeser investasi dari sektor labor intensive ke capital intensive. Peran manusia kini cukup banyak digantikan mesin dan sistem otomatis.

Ekspor keterampilan menjadi solusi untuk mengakomodir laju angkatan yang terus meningkat di antara lapangan kerja yang menyempit. Namun bagaimana memahami mekanismenya?

Mengapa ekspor keterampilan? Bukan kurang kerja, tapi mismatch

Masalah pengangguran bukan semata-mata karena keterbatasan lapangan kerja. Ada sejumlah faktor yang lebih struktural, antara lain

  • Skill mismatch: kettdaksesuaian antara keterampilan/skill yang ada dengan kebutuhan pasar
  • Perubahan pola investasi: teknologi menggantikan pekerjaan rutin
  • Pertumbuhan angkatan kerja lebih cepat dari penciptaan pekerjaan baru

Dengan kata lain, pasar tidak kekurangan manusia. Namun yang kurang adalah kebutuhan akan keterampilan yang tepat. Dalam hal ini, export skill atau ekspor keterampilan hadir sebagai solusi yang perlu dipertimbangkan secara serius. Berbeda dengan “mengirim” tenaga kerja keluar negeri tanpa arah, melainkan membuka peluang ekonomi baru yang terkoneksi dengan pasar global.

Gagasan sederhananya adalah menyalurkan tenaga kerja terampil ke sejumlah negara (contoh yang sudah dilakukan, ke Jepang) secara terukur, dengan sistem yang aman dan saling menguntungkan.

Pemerintah perlu menyiapka kerangka kebijakan dan fasilitas. Masyarakat juga perlu menyiapkan diri agar dapat memaksimalkan peluang tersebut.

Belajar dari negara lain: Data berbicara

Bila kita bandingkan, remitansi dari diaspora Filipina telah mencapai sekitar 9,6%, sementara Indonesia masih berada di kisaran 1,06%. Gap ini bukan hanya tentang jumlah pekerja di luar negeri, tetapi soal strategi nasional seperti:

  • Negara mendorong ekspor keterampilan secara sadar
  • Menekan biaya rekrutmen
  • Membuka kerja sama antar pemerintah
  • Dan tetap melindungi pekerja migran

Dengan pendekatan ini, tenaga kerja yang diberangkatkan bisa lebih terarah dan tidak “hilang”, melainkan kembali dengan keterampilan, jejaring, dan modal pengetahuan yang semakin upgrade.

Kolaborasi pemerintah dan swasta jadi kunci

Sejumlah negara seperti Filipina, Vietnam, Bangladesh, dan India menunjukkan bahwa negara tidak hanya mendorong warganya untuk bekerja di luar negeri, tetapi juga memfasilitasinya secara aktif—mulai dari pelatihan, sertifikasi, hingga penempatan kerja. Oleh karena itu, Arsjad Rasjid dalam penjelasannya tentang export skill, selalu menekankan akan pentingnya kolaborasi dengan pemerintah dan sektor swasta.

Melalui pendekatan tersebut, tenaga kerja diposisikan sebagai aset nasional, bukan sekadar komoditas. Agar program ini dapat diterapkan dengan aman dan efektif, ekspor keterampilan perlu dibangun dengan strategi yang jelas:

1. Identifikasi sektor kompetitif

Fokus pada sektor strategis atau bidang yang permintaannya tinggi secara global. Seperti kesehatan, industri, dan perhotelan.

2. Pelatihan dan sertifikasi standar internasional

Menyiapkan tenaga kerja dengan jenis skill dan standar yang diakui lintas negara untuk meningkatkan daya saing.

3. Perlindungan tenaga kerja yang jelas dan adil

Regulasi perlu menegakkan dan memastikan keamanan, kepastian hukum, serta hak pekerja.

4. Transparansi remitansi untuk investasi produktif

Remitansi ke negara asal perlu diarahkan ke sektor pendidikan, kesehatan, dan kewirausahaan supaya dampaknya berlipat.

Dengan menerapkan kombinasi strategi yang matang, export skill bukan sekadar solusi jangka pendek, tetapi investasi jangka panjang.

Dampak nyata bagi ekonomi nasional

Ekspor keterampilan bukan sekedar tentang memaksimalkan potensi tenaga kerja ke luar negeri. Bila mampu mengelola dengan benar, program ini dapat memberi manfaat berlapis:

  • Meningkatkan devisa negara melalui remitansi
  • Mengurangi tekanan pengangguran domestik
  • Mempercepat peningkatan keterampilan tenaga kerja
  • Dan memperkuat daya saing global Indonesia

Yang terpenting, ekonomi bergerak bukan hanya dari dalam negeri, tetapi juga dari keterhubungan global.

Menurut Arsjad Rasjid, kunci ke depan bukan sekadar menciptakan lebih banyak pekerjaan, melainkan memastikan keterampilan kita relevan dengan kebutuhan pasar global. Sudah saatnya kita menggeser perspektif, bukan hanya bertanya “apakah kita siap kerja?” tetapi “apakah keterampilan kita siap bersaing?”

Ekspor keterampilan bukan berarti kehilangan sumber daya manusia. Justru sebaliknya, ia adalah cara mengirim talenta ke luar, menarik kembali nilai tambahnya, dan bersama-sama menggerakkan ekonomi dari dalam dan luar negeri.

BACA JUGA: Menghadapi Tantangan Mencari Kerja Arsjad Rasjid Gaungkan Tentang Exporting Skill

Saatnya Indonesia melihat ke luar, bukan untuk meninggalkan rumah, tetapi untuk membawa pulang masa depan yang lebih kuat.

You may also like

More in News